KabarBaik.co, Mataram – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) mendeteksi 15 titik panas (hotspot) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan pemantauan satelit pada 11 Juli 2026. Selain mendeteksi titik panas, BMKG juga merilis peta tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah yang berlaku pada 12 Juli 2026.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori merah, yang menandakan kondisi vegetasi sangat kering dan sangat mudah terbakar. Dalam klasifikasi BMKG, warna merah menunjukkan alang-alang dan dedaunan penutup lantai hutan berada dalam kondisi sangat kering sehingga berpotensi tinggi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara warna kuning menunjukkan kondisi kering dan mudah terbakar, hijau menandakan lembap dan cukup sulit terbakar, sedangkan biru menunjukkan kondisi basah dan sulit terbakar. BMKG mencatat kondisi angin di wilayah NTB secara umum bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan 5–40 kilometer per jam. Suhu udara diperkirakan berkisar antara 20 hingga 33 derajat Celsius.
Kondisi cuaca pada musim kemarau tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi meluasnya kebakaran apabila terjadi aktivitas pembakaran terbuka atau sumber api yang tidak terkendali.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparat terkait apabila menemukan titik api guna mencegah meluasnya kebakaran. (*)






