KabarBaik.co, Jakarta- Kekalahan tipis 0-1 dari Adhyaksa FC pada laga play-off promosi Liga 2, Jumat (8/5), tidak hanya mengubur mimpi Persipura Jayapura kembali ke kasta tertinggi. Namun, laga itu juga memicu kerusuhan hebat di Stadion Lukas Enembe. Amuk massa yang terjadi kini menempatkan tim “Mutiara Hitam” dalam bayang-bayang sanksi berat. Bisa jadi nasibnya serupa dengan yang dialami Persela Lamongan.
Kericuhan mulai meledak sesaat setelah wasit asal Uzbekistan, Asker Nadjafaliev, meniup peluit panjang sekitar pukul 19.00 WIT. Suporter yang merasa kecewa mulai melempari ofisial pertandingan sebelum akhirnya merangsek masuk ke area lapangan (pitch invasion).
Situasi semakin tak terkendali ketika amuk massa meluas hingga ke luar stadion. Berdasarkan laporan terbaru dari Polda Papua, kerusuhan ini mengakibatkan sedikitnya 64 hingga 67 unit kendaraan roda dua dan roda empat dilaporkan rusak, hilang, atau hangus terbakar di area parkir.
Selain itu, masa suporter juga merusak pagar stadion, panel LED, kaca-kaca gedung, hingga kursi cadangan (bench) pemain.
Dalam laporam, sebanyak 10 personel kepolisian dan satu warga sipil mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan bentrokan.
Mengingat Kembali Tragedi Rusuh Persela
Dunia sepak bola Indonesia sebelumnya juga dikejutkan oleh insiden kelam yang terjadi pada 18 Februari 2025. Stadion Tuban Sport Center, yang seharusnya menjadi saksi perjuangan Laskar Joko Tingkir menuju kasta tertinggi, justru berubah menjadi palagan kericuhan yang menyisakan luka mendalam bagi klub dan suporter Persela Lamongan.
Tragedi ini bermula saat Persela menjamu Persijap Jepara dalam laga krusial babak 8 besar Liga 2 musim 2024/2025. Tensinya tinggi sejak menit awal, namun keadaan mulai memanas ketika kiper Persela, Bimasakti Andiko, diganjar kartu merah pada menit ke-20. Kondisi semakin terjepit bagi tuan rumah setelah Rosalvo mencetak gol untuk Persijap di menit ke-37.
Memasuki pertengahan babak kedua, aroma ketidakpuasan mulai tercium dari tribun. Rasa frustrasi suporter memuncak bukan hanya karena ketertinggalan skor, tetapi juga karena performa tim yang dianggap tidak maksimal di laga penentuan.
Tepat pada menit ke-75, botol-botol minuman mulai melayang ke arah lapangan.
Tak lama berselang, pada menit ke-79, kepulan asap dari flare yang dinyalakan di tribun utara mulai menutupi pandangan. Suasana semakin tak terkendali ketika ribuan suporter dari tribun selatan memutuskan untuk turun dan melakukan invasi ke dalam lapangan.
Dalam sekejap, lapangan hijau berubah menjadi lautan massa yang emosional. Pertandingan terpaksa dihentikan seketika. Wasit dan para pemain dari kedua tim dievakuasi dengan pengawalan ketat oleh petugas keamanan menuju ruang ganti guna menghindari amukan.
Fasilitas stadion menjadi sasaran kemarahan. Papan iklan dihancurkan, bangku cadangan pemain dirusak, bahkan jaring gawang dibakar di tengah lapangan. Kaca-kaca di beberapa area pintu masuk stadion juga dilaporkan pecah akibat lemparan benda keras. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil dan moral yang diderita sangatlah besar.
Tragedi ini berbuntut panjang. Komite Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman yang sangat berat sebagai bentuk ketegasan terhadap pelanggaran Kode Disiplin. Persela Lamongan dijatuhi sanksi bertanding tanpa penonton untuk seluruh laga kandang sepanjang musim 2025-2026.
Mengingat kembali kejadian ini adalah sebuah pengingat pahit bahwa fanatisme tanpa kendali bisa merugikan tim yang dicintai. Persela pun harus berjuang sendirian di stadion yang sunyi, tanpa nyanyian dan dukungan langsung dari suporter setianya sebagai konsekuensi dari malam kelam di Tuban tersebut.
Di sisi lain, fairplay, sportivitas dan integritas dalam lapangan pihak-pihak terkait, juga mesti terus dijaga untuk tidak menjadi penyulut.
Pernyataan PSSI
Sekjen PSSI Yunus Nusi angkat bicara terkait kerusuhan yang terjadi usai Persipura Jayapura tersebut. “PSSI sangat prihatin dan menyayangkan kericuhan ini. Kami tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi di Jayapura karena masyarakat Papua dan suporter Persipura dikenal sangat mencintai sepak bola,” ujarnya kepada awak media saat menyaksikan laga final Pegadaian Championship di Sleman, Sabtu (9/5).
Yunus menegaskan, kecintaan terhadap sepak bola seharusnya tetap dibarengi dengan sikap dewasa dalam menerima hasil pertandingan. “Menang, kalah, atau seri adalah bagian dari sepak bola. Semua pihak harus punya kesabaran dan kesadaran untuk menerima hasil pertandingan dengan baik,” tegasnya.
Dia juga mengingatkan bahwa sepak bola Indonesia saat ini tengah mendapat perhatian dari FIFA. Karena itu, insiden kerusuhan dinilai bisa mencoreng upaya pembenahan sepak bola nasional. “Kita sedang diawasi FIFA. Jangan sampai kejadian seperti ini merusak perjalanan sepak bola Indonesia yang saat ini terus berbenah,” lanjut Yunus.
Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi hiburan yang aman dan nyaman bagi semua kalangan, termasuk keluarga. “Kalau kita ingin sepak bola Indonesia maju dan menjadi tontonan yang menarik bagi keluarga, maka keamanan dan ketertiban di stadion harus dijaga bersama,” tutupnya
Saat ini, PSSI masih menunggu laporan menyeluruh dari pihak-pihak terkait soal kerusuhan di Jayapura tersebut. Selanjutnya, pengurus bersama ketua umum dan Exco PSSI akan menggelar rapat bersama. Jadi, sanksinya seperti apa untuk Persipura masih belum diputuskan. (*)






