Matematika Jadi ‘Monster’ Hari Pertama TKA 2025: Siswa Keluhkan Waktu Mepet

oleh -637 Dilihat
IMG 20251103 174001

KabarBaik.co– “Itungannya cukup banyak, kadang pilih soal aja karena waktu mepet, tanpa ngitung benar,” keluh Jessi, siswa SMAN di Jakarta, usai menaklukkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) hari pertama.

Di tengah euforia 3,5 juta siswa SMA/MA/SMK yang “bertarung” secara serentak hari ini, mata pelajaran Matematika muncul sebagai ‘momok utama’ yang bikin peserta pusing tujuh keliling. Dari geometri rumit hingga waktu 50 menit untuk 25 soal yang terasa seperti maraton sprint.

Pelaksanaan TKA 2025, yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai pengukur capaian akademik nasional (bukan syarat kelulusan), berlangsung lancar di 6.558 sekolah dan madrasah se-Indonesia. Dimulai pukul 07.30 WIB, tes berbasis komputer ini menargetkan 85 persen siswa kelas XII, dengan durasi hari pertama mencapai 150-195 menit untuk tiga mata wajib. Yakni, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Dirjen PAUD Dikdasmen Gogot Suharwoto memantau langsung di SMAN 78 Jakarta, menegaskan tidak ada kendala signifikan seperti error server yang sempat mengganggu gladi bersih akhir Oktober lalu.

Namun, di balik ketertiban itu, jeritan siswa bergema di media sosial. Dari pantauan X (Twitter), 70 persen testimoni menyoroti Matematika sebagai ‘bos akhir’ dengan rating kesulitan 8-10/10. “MTK 10/10: susah bgt anjing, entah gue yang bego atau gimana,” tulis @wonbinpretty, mencerminkan keluhan umum soal hitungan panjang dan geometri yang ‘kurang ajar’.

Nurhan, peserta TKA, menargetkan nilai 90 meski akui waktu ‘tidak aman’. Hanya 2 menit per soal, sering bikin siswa skip 3-7 nomor. Geometri mendominasi, sementara fungsi dan peluang minim, membuat soal lebih mirip teka-teki daripada hafalan UN lama.

Bahasa Indonesia disebut tak kalah menjengkelkan dengan bacaan ‘panjang-panjang’ (rating 5-6/10), di mana siswa seperti @rnosses mengaku kehabisan waktu untuk 3 soal akhir. “Waktunya kurang bgt, ada 3 soal gak keburu,” curhatnya.

Sementara Bahasa Inggris jadi ‘penyelamat’ relatif mudah (3-6/10), fokus reading comprehension level A2-B1 yang bisa dinalar tanpa hafalan berat—@raizaraisha bahkan sebut “gacor”. Secara keseluruhan, soal dinilai lebih sulit dari simulasi, tapi sesuai kisi-kisi UN 2019: campuran pilihan ganda biasa dan kompleks, dianalisis pakai Item Response Theory (IRT).

Seorang guru SMAN di Jakarta titip pesan ke Kemendikdasmen: pisahkan mata pelajaran agar tidak mepet, dan tambah jeda istirahat. Ini sejalan dengan petisi online yang sempat viral minta batalkan TKA karena persiapan terlambat. Kisi-kisi baru rilis Juli, simulasi Oktober. Belum lagi isu bocoran palsu di X dari akun spam seperti @jualsoaltka2025, yang langsung ditegur Kemendikdasmen dengan ancaman diskualifikasi dan nilai nol bagi pelanggar.

Hari kedua besok (4/11) lanjut dua mata pilihan (130 menit), gelombang susulan 17-23 November. Hasil Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) jadi amunisi SNBP/SNBT 2026, berlaku seumur hidup tanpa ujian ulang. Bagi siswa seperti Jessi yang mimpi kedokteran, TKA bukan akhir dunia, tapi pengingat bahwa nalar, bukan hafalan, yang menang. “Ini bukan ujian kelulusan, tapi cermin diri,” pesan seorang Kadisdik. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.