KabarBaik.co, Nganjuk — Isu dugaan pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SMAN 1 Pace, Kabupaten Nganjuk, kini menuai sorotan publik secara tajam.
Bantuan pendidikan yang seharusnya diterima utuh oleh para siswa tersebut disinyalir dipotong sebesar Rp 1,5 juta tak lama setelah proses pencairan di bank.
Aktivis dari Lembaga Kajian Hukum dan Perburuhan (LKHPI), Hamid Efendi, menilai praktik koruptif tersebut terungkap dari rekaman pengakuan yang berhasil dihimpun oleh organisasinya.
“Dengan rekaman itu, kami meyakini bahwa telah terjadi praktik koruptif. Bisa jadi di balik pemotongan ini ada semacam tarikan atau pungli, sehingga siswa mengaku tidak keberatan karena belum lunas. Uang Rp 1,5 juta tidak sedikit untuk biaya sekolah. Bayar apa sampai segitu banyaknya? Bukannya sekolah sudah digerojok anggaran negara?” tegas Hamid, Senin (3/8).
Saat isu sensitif ini merebak, Kepala SMAN 1 Pace yang memegang tanggung jawab penuh justru enggan memberikan keterangan. Sebaliknya, seorang guru yang bertugas di perpustakaan tampil ke depan untuk pasang badan membela pihak sekolah.
Petugas perpustakaan SMAN 1 Pace, Imam Gunung, membantah adanya pemotongan dana tersebut saat dikonfirmasi oleh awak media.
“Sebenarnya kalau masalah itu enggak ada pemotongan ini, Mas. Nanti konfirmasinya sama Bu Debby Humas saja. Kan itu kan enggak ada pemotongan, kayaknya gitu,” ujar Imam.
Berdasarkan data yang dihimpun, proses pencairan dana PIP bagi para siswa tersebut dilakukan di Bank BNI Tanjunganom. Namun, pencairan itu mengandalkan sosok berorganisasi ASN yang disinyalir langsung mengeksekusi pemotongan dana usai uang tunai cair dari bank.
Saat disinggung mengenai keterlibatan oknum berseragam ASN yang mendampingi para siswa ke bank, Imam Gunung kembali mengelak dan menyebut kehadiran oknum tersebut hanya sebatas pengantar. “Kalau itu mengantarkan kayaknya,” kelit Imam.








