KabarBaik.co – Di tengah laju zaman yang kian cepat, Bambang Sutrisno memilih berjalan dengan irama yang diwariskan leluhurnya: kejujuran, kesabaran, kerja sungguh-sungguh, dan keikhlasan. Ia adalah generasi kelima Sedulur Sikep, komunitas masyarakat adat Samin di Bojonegoro, yang hingga kini tetap setia menjalani ajaran hidup sederhana namun sarat makna.
Bagi Bambang, menjadi Samin bukan soal identitas yang ditonjolkan, melainkan laku hidup yang dijalani sehari-hari. Ajaran Samin mengajarkan kejujuran sebagai fondasi, kesabaran sebagai penuntun, serta kerja sungguh-sungguh, yang oleh orang Samin disebut trokal dan keikhlasan atau narima sebagai penutup setiap usaha. Nilai-nilai itu dijalani tanpa pamrih, tanpa tuntutan pengakuan.
“Kalau sudah jujur, sabar, dan berusaha sungguh-sungguh, apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada,” tutur Bambang. Prinsip itu pula yang membuat ajaran Samin tetap bertahan, meski kerap disalahpahami di luar komunitasnya. Pujian maupun kritik diterima dengan sikap yang sama yakni ikhlas.
Putra Mbah Hardjo Kardi generasi kelima penerus ajaran Samin Surosentikoini tumbuh di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Dari tempat itulah nilai perlawanan tanpa kekerasan, kesederhanaan, dan persaudaraan lintas manusia diwariskan dari generasi ke generasi. Ajaran Samin, menurut Bambang, bersifat universal dan tidak bertentangan dengan agama mana pun.
Ada lima tuntunan utama yang menjadi pegangan hidup Sedulur Sikep: tidak mengambil hak orang lain, tidak membeda-bedakan sesama karena semua adalah saudara, berpikir sebelum berbicara, serta memiliki empati atau merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum bertindak. “Itu sebenarnya sifat dasar manusia. Semua sudah dibekalkan sejak lahir,” ujarnya.
Tantangan terbesar menjaga ajaran ini, kata Bambang, bukanlah modernisasi, melainkan konsistensi, terutama di kalangan generasi muda. Namun ia percaya, jika nilai-nilai itu benar-benar dijalankan, sejatinya tidak ada tantangan yang berarti. Karena tujuan hidup manusia pada akhirnya sama yakni mencari ketenteraman.
Upaya pelestarian ajaran Samin juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang mendorong penggunaan udeng dan pakaian adat Samin bermotif Obor Sewu oleh ASN dinilai membawa dampak besar. Masyarakat yang sebelumnya asing kini mulai bertanya, mengenal, dan memahami makna di balik simbol budaya tersebut.
Motif Obor Sewu sendiri bukan sekadar hiasan. Sejak 2019, motif ini disepakati sebagai identitas budaya yang tidak diperjualbelikan secara bebas, agar setiap pemakainya memiliki rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk memahami cerita dan nilai Samin di baliknya.
Di penghujung tahun 2025, laku hidup yang dijalani Bambang dan komunitasnya berbuah pengakuan nasional. Pemerintah melalui Menteri Kebudayaan menganugerahkan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori masyarakat adat kepada Sedulur Sikep. Namun bagi Bambang, penghargaan itu bukanlah milik pribadi.
“Ini bukan tentang saya. Ini kepercayaan negara kepada kami sebagai penerus ajaran Samin. Kami hanya menjalankan pesan leluhur,” katanya.
Ia menegaskan, ajaran Samin tidak mengajarkan meminta. Ketika penghargaan diberikan dengan ikhlas, barulah diterima dengan rasa syukur. Kepada generasi muda Bojonegoro dan Indonesia, Bambang menitipkan pesan sederhana, yakni jika ada nilai Samin yang dianggap kurang baik, silakan dikritisi. Namun jika dinilai baik, mari dijalankan bersama. Sebab Samin berarti sami-sami atau semua setara. Dan dari kesetaraan itulah, manusia belajar hidup jujur, sabar, dan tenteram. (*)







