Menyemai Api Kartini dalam Napas Khofifah Indar Parawansa ​

oleh -160 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 18 at 9.49.37 AM 1 scaled
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (Ist)

HARI ini, 21 April, saat aroma melati ingatan selalu tertuju pada sosok Raden Ajeng (RA) Kartini, kita disadarkan bahwa emansipasi bukanlah sekadar prasasti sejarah yang usang dimakan zaman. Surat-surat Kartini tentang “Habis Gelap Terbitlah Terang” telah menjelma menjadi napas yang dihidupi oleh perempuan-perempuan tangguh Nusantara.

Dan, di bawah bentangan langit Jawa Timur, napas perjuangan itu juga bergelegak kuat dalam derap langkah seorang Khofifah Indar Parawansa (KIP).

​Bagi warga Jawa Timur, ia adalah nakhoda yang tak pernah gentar dihempas gelombang. Perjalanan kepemimpinannya bukanlah jalan sutra yang mulus. Penuh rute terjal yang dibentuk oleh tempaan godam rintangan. Harus melewati beberapa kali palagan Pilkada, sebelum akhirnya memegang kemudi Jawa Timur pada 2019 dan kembali dipercaya menakhodai provinsi ini.

Khofifah membuktikan diri sebagai karang. Badai krisis, termasuk pandemi Covid-19 yang sempat meluluhlantakkan sendi kehidupan, boleh datang menghantam, namun di bawah sang nakhoda, Jawa Timur tetap tegak berdiri memecah buih-buih pesimisme menjadi lautan optimisme.

​Di balik ketangguhan tersebut, Khofifah layaknya mentari pagi yang menebar kehangatan optimisme, menembus celah-celah kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Kebiasaannya menyesap aroma peluh di los-los pasar tradisional, memecah bisingnya terminal, hingga menjejakkan kaki di hamparan persawahan, bukanlah sekadar aksi panggung teatrikal musiman.

Bagi mereka yang mengenalnya, jejak tersebut jauh telah terukir lama, mengalir dalam darah seorang alumni Universitas Airlangga (Unair) itu yang memang lahir dan ditempa dari rahim pergerakan organisator.

Di tengah masyarakat, metamorfosis kepemimpinannya terbilang advance. Bisa seketika berdiri seperti sosok bapak yang tegas kala menegakkan arah kebijakan, merengkuh lembut sebagai ibu yang penuh empati saat menghapus luka dan air mata mereka yang kurang beruntung, sekaligus hadir membumi sebagai sahabat yang duduk menemani.

​Lewat peluk empati itu pula, Khofifah menempatkan kaum perempuan sebagai bantalan utama ketahanan keluarga dan masyarakat. Dengan tangan dingin keibuannya, dia intensif berikhtiar menyulap air mata perjuangan para perempuan rentan menjadi mata air kemandirian melalui beragam program seperti Jatim Puspa.

Tak berhenti di sana, melalui jejaring Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakar kuat diubahnya menjadi lumbung pemberdayaan, sekaligus menjadikan para ibu sebagai garda terdepan dalam memutus rantai stunting dan problem sejenis di desa-desa. Tak hanya gerakan lokal dan regional, melainkan juga pergerakan global. Tak ayal, Muslimat NU dan Khofifah bak dua sisi mata uang. Muslimat adalah Khofifah, dan Khofifah adalah Muslimat.

‘’Ini adalah seruan kita kepada dunia. Seruan kepada PBB bahwa dunia harus diwujudkan kedamaian. Hentikan peperangan. Kalau dulu pernah ada Komite Hijaz, maka Muslimat NU akan mengirim Komitie PBB. Bersama organisasi perempuan lain, kita berkirim surat online (kepada PBB),’’ ujar Khofifah dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya, Senin (20/4).

​Semangat luhur Kartini untuk mencerdaskan bangsa pun diejawantahkan Khofifah dengan membuka gerbang cahaya seluas-luasnya. Sebab, pendidikan merupakan eskalator peradaban terbaik untuk mengangkat derajat mereka yang terpinggirkan. Melalui program seperti Pendidikan Gratis dan Berkualitas (TisTas), pihaknya berharap ribuan anak Jawa Timur tak perlu mematahkan sayap mimpi mereka di tengah jalan hanya karena terbentur dinding kemiskinan.

Hasilnya pun tak mengkhianati usaha. Perlahan tapi pasti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah Jawa Timur merangkak naik melampaui rata-rata nasional, menjadi bukti nyata dari benih literasi yang ditanam bersama itu.

​Sementara itu, di tengah gulungan ombak disrupsi digital yang kian deras, Jawa Timur tidak membiarkan generasi mudanya tenggelam. Alih-alih meratapi zaman, Khofifah merakitkan ‘papan selancar’ bagi anak-anak muda agar mereka sanggup menaklukkan gelombang ekonomi kreatif. Kehadiran banyak program seperti Millennial Job Center (MJC) dan jejaring East Java Super Corridor (EJSC) di berbagai penjuru daerah menjadi dermaga tempat para talenta muda, freelancer, dan pelaku kriya bersandar untuk mengasah skill dan kompetensi, merajut relasi dengan dunia usaha, dan menginkubasi karya tanpa harus hijrah ke ibu kota provinsi.

​Jawa Timur sendiri adalah hamparan permadani yang ditenun dari benang-benang perbedaan—mulai dari budaya Mataraman, Arek, Pandalungan, hingga Madura. Di tengah keberagaman yang rawan terkoyak ini, Khofifah selalu hadir sebagai ’’tukang kebun’’ yang telaten merawat taman kebinekaan. Lewat pilar seperti Jatim Harmoni, ia rutin menyirami masyarakat bersama jajaran Forkopimda serta pentahelix dengan dialog-dialog lintas agama yang sejuk.

Ketika ada percikan, pendekatannya selalu berupa pelukan seorang ibu yang meredam amarah, dibarengi dengan pelestarian akar budaya lokal dan apresiasi mendalam bagi para seniman-seniman tradisi penjaga kewarasan akal sehat dan nurani bangsa.

​Sebagai sosok yang lahir dan bernapas dari rahim kaum santri, pembelaannya pada pendidikan pesantren pun istmewa. Di tangannya, pesantren direvitalisasi agar tak sekadar menjadi menara gading tempat menimba ilmu agama, melainkan diubah menjadi pusat gravitasi kemandirian umat. Melalui rahim program One Pesantren One Product (OPOP), misalnya, dia menetaskan ribuan santripreneur yang cakap mengkaji kitab kuning sekaligus piawai membaca peluang pasar.

Keringat para guru Madrasah Diniyah juga dibasuh dengan guyuran beasiswa pendidikan tinggi, memastikan bahwa mereka yang menjaga moral bangsa, mendapat tempat paling terhormat.

​Deretan trofi, dari penganugerahan Bintang Mahaputera Utama hingga gelar Doktor Honoris Causa tak henti-hentinya menghiasi etalase prestasinya. Namun, dalam kamus kepemimpinan Khofifah, penghargaan-penghargaan itu hanyalah ibarat bayangan, yang secara alamiah akan selalu mengikuti siapa saja yang terus berjalan lurus menyongsong cahaya pengabdian.

Dan, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu terus bergerak, memastikan bahwa tanah kelahirannya menjelma menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua.

​Tentu, sebagai manusia biasa yang menjejak bumi, Khofifah bukanlah gading yang tak retak. Bukan sosok yang sempurna tanpa cela. Ada kalanya riak kritik menyapa kebijakannya, atau tak semua angan dan ekspektasi mampu dirajut dalam semalam. Tapi, justru di celah retakan itulah cahaya ketulusannya terasa menyala kian terang. Rasanya, dia tidak pernah lari bersembunyi di balik tameng kuasa saat badai ketidakpuasan menerpa.

Ketidaksempurnaan itu justru terus berupaya didekap erat sebagai pengingat untuk terus menunduk dan membumi, menjadikannya bahan bakar tak kasatmata dan dapat terus berbenah, melangkah lebih teguh. Mendengarnya dengan lebih jernih.

​Selamat Hari Kartini! Aroma melati Hari Kartini terasa semakin purna ketika merenungkan benang merah perjuangan tersebut. Mungkin ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah garis semesta yang menautkan dua srikandi beda zaman. Jika Anda suatu hari berkesempatan melangkahkan kaki berziarah ke makam RA Kartini, di gerbang Anda akan mendapati nama Khofifah Indar Parawansa tertulis abadi dalam prasasti di sana.

Ya, dialah yang meresmikan kompleks makam sang pelopor emansipasi itu sebagai destinasi wisata ziarah nasional pada 21 April 2017 silam.

Lewat kepakan sayap dedikasi seorang Khofifah, terpetik satu pelajaran filosofis yang menyentuh bahwa perempuan tangguh sejati adalah mereka yang tidak sekadar mampu mendaki puncak gunung tinggi sendirian, melainkan yang senantiasa bersedia turun kembali ke lembah, menuntun yang masih tertatih, dan merawat nyala api Kartini agar tak pernah padam ditelan zaman. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.