Meracik Asa dalam Gelap, Guru Tunanetra Banyuwangi Sukses Jalankan Usaha Kopi

oleh -158 Dilihat
IMG 20260525 WA0011 1
Nurul Imam tampak sibuk menyiapkan pesanan. (Foto: Muhammad Ikhwan)

KabarBaik.co, Banyuwangi – Aroma kopi menyeruak pelan dari sebuah rumah di Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di dapur sederhana yang sekaligus menjadi tempat usahanya itu, Nurul Imam tampak sibuk menyiapkan pesanan.

Tangannya bergerak luwes menyentuh toples-toples berisi biji kopi. Sesekali ia membuka tutup wadah, menghirup aromanya, lalu tersenyum kecil seolah sudah mengetahui karakter kopi di dalamnya.

Tak ada keraguan dalam setiap gerak yang ia lakukan. Padahal, pria berusia 38 tahun itu tidak bisa melihat. Imam merupakan penyandang tunanetra total. Namun keterbatasan penglihatan tak pernah benar-benar menghentikan langkahnya untuk terus berkarya.

Dari rumah itulah ia merintis usaha kopi bernama Asyifa Coffee, sebuah usaha kecil yang perlahan tumbuh bersama semangat hidup yang ia rawat setiap hari.

Dengan mengandalkan ingatan, perabaan, dan penciuman, Imam mengenali satu per satu jenis kopi yang digunakannya. Robusta, arabika, hingga excelsa dapat ia bedakan hanya lewat aroma. Bagi sebagian orang hal itu mungkin sulit dibayangkan, namun bagi Imam, aroma adalah penuntun.

“Hafal dari wadah dan kalau dibuka aromanya beda,” kata Imam (25/5).

Rutinitas meracik kopi hampir seluruhnya ia lakukan sendiri. Mulai menggiling biji kopi, menakar bubuk, hingga menyeduh espresso menggunakan mesin kopi. Takaran kopi pun sudah tersimpan di luar kepala. Ia hafal betul ukuran yang diperlukan untuk menghasilkan cita rasa yang pas dalam setiap cangkir.

“Takaran satu sendok kopi sekitar 10 gram. Sedangkan untuk espresso biasanya menggunakan 18 gram yang ditakar melalui portafilter,” katanya sambil menunjukkan alat seduh yang digunakan.

Kepekaan Imam terhadap proses pembuatan kopi juga terbilang luar biasa. Bahkan ketika gas kompor mulai habis, ia bisa langsung mengetahuinya dari perubahan aroma dan panas saat proses pemanggangan maupun penyeduhan berlangsung. Hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian orang lain justru menjadi petunjuk penting baginya.

Perjalanan Asyifa Coffee dimulai sekitar dua tahun lalu. Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengisi waktu setelah aktivitas bermusiknya berhenti akibat pandemi Covid-19. Dari sana, ketertarikannya terhadap dunia kopi tumbuh perlahan. Ia mulai belajar secara otodidak, mencari informasi sendiri, hingga berdiskusi dengan teman-temannya yang lebih dulu terjun ke dunia kopi.

Salah satu sosok yang banyak membantunya belajar adalah Novian, pemilik usaha kopi Mobile Osing. Dari berbagai obrolan dan proses belajar sederhana itulah Imam mulai memahami karakter kopi, teknik roasting, hingga cara menyeduh espresso.

Kini usaha kecil yang ia bangun mulai dikenal. Selain menjual kopi seduh langsung dari rumah, Imam juga memasarkan kopi kemasan melalui media sosial. Menariknya, seluruh akun hingga administrasi usaha dikelolanya sendiri tanpa bantuan orang lain.

“Kemasan bisa beli di TikTok Asyifa Coffee, di profil ada nomor saya. Adminnya akun saya sendiri,” ujarnya bangga.

Meski masih beroperasi dari rumah, Asyifa Coffee beberapa kali ikut meramaikan berbagai event di Banyuwangi. Salah satunya saat mengikuti acara “Senja di AWT (Agro Wisata Tamansuruh)”. Dalam tiga hari berjualan di event tersebut, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp2 juta.

“Hari pertama, kedua bagus signifikan. Sampai hari ketiga omzet sekitar Rp2 juta,” katanya.

Namun di balik aktivitasnya sebagai peracik kopi, Imam tetap menjalani profesi utamanya sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SLB Banyuwangi. Sejak 2025, ia tercatat sebagai guru PPPK penuh waktu.

Pagi hingga siang ia mengajar di sekolah, sementara waktu luangnya digunakan untuk mengembangkan usaha kopi.
Menariknya lagi, dunia kopi kini juga ia kenalkan kepada para siswa berkebutuhan khusus di sekolah tempatnya mengajar.

Imam membuka kelas kopi sederhana agar para siswa memiliki keterampilan tambahan yang bisa menjadi bekal di masa depan. “Setelah membuat usaha, saya membuka kelas coffee di SLB,” ujarnya.

Imam mengalami gangguan penglihatan sejak lahir. Ia sempat masih bisa mengenali beberapa warna saat kecil, namun penglihatannya hilang total pada 2016. Meski begitu, ia tidak ingin hidupnya berhenti hanya karena keterbatasan fisik.

Bagi Imam, kopi bukan semata perkara bisnis atau mencari tambahan penghasilan. Ada harapan dan relasi yang ingin ia bangun lewat setiap cangkir yang diseduhnya. Ia ingin tetap aktif, produktif, dan memiliki ruang untuk terus bertumbuh.

“Paling tidak kalau saya nantinya sudah pensiun jadi guru tidak gabut di rumah, ada kesibukan. Relasi saya bangun dari sekarang,” katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.