KabarBaik.co, NTT– Di tengah suasana perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, duka mendalam tmenyelimuti saudara warga Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8) telah menewaskan sedikitnya 53 orang dan ratusan korban terluka. Selain itu, ribuan rumah serta sejumlah fasilitas publik rusak.
Data sementara yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (16/8) pukul 16.00 WIB menunjukkan, korban meninggal dunia tersebar di enam kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat korban terbanyak dengan 25 orang, disusul Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Ende 2 orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing 1 orang.
Selain korban meninggal, sebanyak 137 orang mengalami luka-luka. Mereka masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan maupun fasilitas kesehatan darurat di wilayah terdampak.
Besarnya dampak gempa juga terlihat dari kerusakan permukiman. Sebanyak 1.543 rumah dilaporkan rusak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan. Kerusakan turut menimpa 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, 76 kantor pemerintahan, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.
Di saat masyarakat seharusnya menyambut peringatan kemerdekaan dengan semangat dan suka cita, ribuan warga Flores justru harus bertahan di pengungsian. Hingga Minggu sore, tercatat 5.488 jiwa mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri.
Situasi masih dinamis. Aktivitas gempa susulan terus terjadi dengan total 995 kali gempa, sebanyak 46 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Pemerintah bergerak mempercepat penanganan darurat. Kepala BNPB Letjen TNI Dr Suharyanto bersama jajaran kementerian dan pemerintah daerah telah berada di wilayah terdampak untuk memastikan proses pencarian dan pertolongan, pelayanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga berjalan.
Bantuan logistik dari pemerintah pusat juga mulai berdatangan melalui jalur darat dan udara. Sebanyak 4.925 paket bantuan telah tiba di Maumere dan Labuan Bajo pada Minggu (16/8) untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah kabupaten terdampak.
Rinciannya, 550 paket untuk Manggarai Barat, 1.000 paket untuk Manggarai, 550 paket untuk Manggarai Timur, 550 paket untuk Ngada, 550 paket untuk Nagekeo, 1.000 paket untuk Sikka, dan 725 paket untuk Ende.
Pemerintah juga mengaktifkan Pos Pendampingan Nasional (Pospenas) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sebagai pusat koordinasi penanganan darurat. Sementara posko taktis akan diaktifkan di Kota Maumere untuk memperkuat respons di lapangan.
RSUD Manggarai Terdampak, Rumah Sakit Lapangan Disiapkan
Salah satu persoalan mendesak dalam penanganan gempa adalah terganggunya pelayanan kesehatan. RSUD Manggarai mengalami kerusakan pada sejumlah bagian dan fasilitas akibat guncangan. Kondisi tersebut membuat pelayanan pasien dan aktivitas administrasi sementara dilakukan di halaman rumah sakit.
Kondisi itu ditinjau langsung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno bersama Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto pada Minggu (16/8).
Dari hasil peninjauan, pemerintah memutuskan menyiapkan rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal. Fasilitas darurat tersebut diharapkan menjadi solusi sementara agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan selama RSUD Manggarai belum dapat beroperasi secara normal.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Kepala BNPB akan segera membangun rumah sakit lapangan sebagai solusi alternatif layanan kesehatan sementara RSUD Manggarai,” ujar Pratikno.
BNPB selanjutnya akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk membangun rumah sakit lapangan sekaligus memenuhi kebutuhan pelayanan medis masyarakat.
“Kita segera bangun dan akan terus berkoordinasi. Sesuai arahan Bapak Menko, kita juga akan memberikan dukungan lainnya, termasuk kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” kata Suharyanto.
Selain layanan kesehatan darurat, BNPB akan mendukung perbaikan infrastruktur RSUD Manggarai agar fasilitas tersebut dapat kembali berfungsi secara bertahap.
Di tengah kepungan duka dan kerusakan, pemerintah menegaskan bahwa keselamatan warga serta pemenuhan kebutuhan dasar menjadi prioritas. Pendataan dampak dan kebutuhan masyarakat pun diminta dilakukan secara akurat agar bantuan dapat segera disalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini pun menjadi berbeda bagi warga Flores. Ketika Merah Putih berkibar di berbagai penjuru negeri, sebagian masyarakat NTT masih berjibaku dengan kehilangan, luka, pengungsian, dan upaya menyelamatkan kehidupan pascagempa.
Namun, di tengah tragedi tersebut, pencarian dan pertolongan terus dilakukan. Bantuan terus berdatangan, pelayanan kesehatan disiapkan, dan pemerintah bersama masyarakat bergerak untuk memastikan warga terdampak tidak menghadapi bencana ini sendirian. (*)






