Meski Panen Melimpah, Namun Petani Bawang Merah di Jombang Terjepit Harga dan Cuaca Ekstrem

oleh -171 Dilihat
WhatsApp Image 2026 01 29 at 2.33.49 PM scaled
Petani saat memanen bawang merah di Desa Purisemanding (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Petani bawang merah di Desa Purisemanding, Plandaan, Jombang, tengah menikmati panen yang cukup melimpah.

Namun, hasil panen tersebut belum sepenuhnya membawa kebahagiaan karena harga jual di tingkat petani justru mengalami penurunan, ditambah ancaman hama dan cuaca ekstrem sepanjang musim tanam.

Salah satu petani, Aan Purnomo, mengatakan panen bawang merah pada usia tanam 58 hari tergolong bagus. Meski demikian, curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus serta serangan hama ulat menjadi tantangan serius bagi petani di wilayah tersebut.

“Dengan bibit 1,5 kuintal biasanya bisa panen sekitar 1,5 ton. Tapi sekarang harga di petani hanya Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kilogram,” kata Aan saat ditemui, Kamis (29/1).

Aan menjelaskan, biaya produksi bawang merah tergolong tinggi. Harga bibit mencapai Rp 45.000 per kilogram, sementara total biaya pengolahan lahan hingga panen bisa menembus Rp 25 juta. Dengan harga jual saat ini, keuntungan yang diperoleh petani sangat tipis, bahkan nyaris impas.

“Harapannya harga bisa lebih stabil supaya petani tidak merugi,” ujarnya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Yus Ardi Baskoro, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan luas areal tanam bawang merah di Kecamatan Plandaan mencapai sekitar 30 hektar, dengan sentra produksi terbesar berada di Desa Darurejo. Selain itu, budidaya bawang merah juga tersebar di Desa Kampung Baru, Purisemanding, dan Klitih.

Menurut Yus, kendala utama penanaman bawang merah pada bulan Januari adalah cuaca ekstrem. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit jamur, serta hama ulat grayak.

“Musim hujan membuat serangan jamur meningkat, ditambah hama ulat grayak yang cukup meresahkan petani,” jelas Yus.

Sebagai upaya pengendalian, petani disarankan melakukan penyemprotan fungisida dan insektisida secara berkala. Selain itu, PPL juga mendorong penggunaan metode pengendalian hama secara alami guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.

“Kami arahkan penggunaan perangkap dan fungisida alami. Idealnya, lahan seluas 0,14 hektar atau sekitar 1.400 meter persegi bisa menghasilkan 1,6 sampai 2 ton bawang merah. Namun jika terserang hama, hasilnya bisa turun menjadi 1 hingga 1,5 ton,” paparnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Yus menilai potensi pengembangan bawang merah di Kecamatan Plandaan masih sangat besar. Kontur tanah liat yang sesuai dan sistem irigasi tadah hujan menjadi faktor pendukung utama. Selain itu, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian bawang merah juga terus meningkat.

“Usia tanam bawang merah relatif pendek, sehingga pengendalian harus cepat dan tepat. Alhamdulillah, banyak petani muda atau milenial yang mulai tertarik karena potensi keuntungannya,” kata Yus.

Dengan produksi yang melimpah, para petani berharap harga bawang merah di pasaran dapat kembali stabil sehingga kesejahteraan petani tetap terjaga, meski di tengah tantangan cuaca ekstrem dan serangan hama. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.