Muktamar ke-35 NU: Ketika Takdir Memilih Pemimpin

oleh -246 Dilihat
HUD BARU OKE

OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)

ADA sebuah fenomena dalam hidup yang sering membuat kita bertanya-tanya. Kita melihat seseorang dan menilainya dari apa yang tampak. Menurut kita, ia kurang pintar. Kurang berpengalaman. Wawasannya biasa saja. Kemampuannya juga tidak istimewa.

Dengan ukuran itu, kita merasa yakin bahwa ia tidak akan menjadi pemimpin. Namun bandul kehidupan terkadang bergerak berbeda. Orang yang dianggap kurang layak, justru terpilih atau dipilih. Setelah itu, ia terus naik. Mendapat kepercayaan yang lebih besar. Sementara orang yang kita anggap lebih kompeten justru terhenti.

Di sinilah muncul pertanyaan penting. Apakah kepemimpinan hanya ditentukan oleh kompetensi? Ataukah ada faktor lain yang bekerja di balik apa yang dapat kita lihat?

Dalam kajian modern dikenal istilah leadership emergence. Konsep yang menjelaskan bagaimana seseorang muncul dan diakui sebagai pemimpin. Proses itu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi. Ada persepsi, jaringan, dinamika kelompok, struktur organisasi, dan situasi yang ikut berperan.

Karena itu, orang yang paling kompeten tidak selalu menjadi orang yang paling berkuasa. Seseorang bisa sangat pintar, tapi tidak mendapatkan dukungan. Sebaliknya, seseorang dengan kemampuan yang terlihat biasa dapat muncul sebagai pemimpin karena berada pada momentum yang tepat.

Dalam politik, organisasi, dan kehidupan sosial, kepemimpinan sering lahir dari pertemuan banyak faktor. Ada kompetensi. Ada karakter. Ada jaringan. Ada momentum. Ada keadaan. Bahkan ada unsur ketidakpastian.

Di sinilah perspektif tauhid memberikan lapisan makna yang lebih dalam. Manusia memang diperintahkan untuk berikhtiar. Namun, hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada dalam kuasa manusia.

Kita melihat sebab. Tuhan Allah SWT mengetahui keseluruhan akibat. Kita melihat seseorang hari ini. Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya. Mengetahui masa lalu, masa depan, pertemuan, kesempatan, dan peristiwa yang akan membentuknya.

Karena itu, ketika seseorang yang kita anggap tidak layak ternyata menjadi pemimpin, kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa dunia telah salah memilih. Bisa jadi memang ada kekurangan pada dirinya. Tetapi, bisa juga kita hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan yang lebih besar.

Orang sering berkata bahwa “semesta sedang bergerak”. Dalam perspektif tauhid, ungkapan ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Bukan semesta yang memiliki kehendak mandiri. Allah yang mengatur kehidupan melalui berbagai sebab.

Ada orang yang memilih. Ada organisasi yang mendukung. Ada lawan yang melakukan kesalahan. Ada kesempatan yang terbuka. Ada momentum yang datang tanpa direncanakan.

Kita mungkin menyebutnya kebetulan atau keberuntungan. Namun, bagi orang beriman, seluruh sebab itu tetap berada dalam kehendak Allah.

Inilah salah satu makna penting dari qadar. Qadar bukan alasan untuk berhenti berusaha. Qadar mengingatkan bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kita dapat belajar. Bekerja. Membangun jaringan. Memperbaiki kompetensi. Tetapi, kita tidak dapat memaksa sebuah pintu untuk terbuka.

Kadang, justru pintu yang tidak pernah diperhitungkan yang terbuka. Seseorang bertemu orang yang tepat. Masuk ke situasi yang tepat. Lalu memperoleh kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan.

Ada pula faktor lain yang menarik. Yaitu warisan antargenerasi. Tidak ada manusia yang benar-benar berdiri sendirian. Di belakang seseorang terdapat keluarga, pendidikan, budaya, nilai, jaringan, dan sejarah. Ada pula kebaikan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Dalam kajian sosial, pengaruh antargenerasi memang dapat membentuk identitas dan kesempatan seseorang. Ada pula gagasan ancestral leadership. Gagasan ini melihat bagaimana nilai, cerita, simbol, dan pengetahuan leluhur dapat memengaruhi generasi berikutnya.

Dari perspektif spiritual, kita dapat merenungkan hal yang lebih dalam. Bagaimana dengan doa dan amal para leluhur? Kita tentu tidak dapat membuktikan secara ilmiah bahwa seseorang menjadi pemimpin karena doa kakeknya. Kita juga tidak dapat memastikan bahwa keberhasilannya adalah hasil sedekah neneknya.

Itu wilayah keyakinan. Bukan kesimpulan empiris. Namun, seorang Muslim dapat meyakini bahwa kebaikan tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya. Ada doa yang mungkin terus hidup. Ada amal yang meninggalkan jejak. Ada nilai yang diwariskan. Ada kebaikan yang mungkin baru terasa oleh generasi berikutnya.

Ilmu sosial juga mengenal konsep contingency. Konsep ini menunjukkan bahwa hasil kehidupan sangat dipengaruhi keadaan yang tidak selalu dapat diprediksi. Ada pula pembahasan tentang luck and leadership. Keberuntungan dan kondisi eksternal dapat membentuk reputasi seseorang.

Orang yang berhasil pada momentum tertentu bisa dianggap hebat. Reputasinya tumbuh. Dukungan meningkat. Kekuasaan pun semakin besar.

Dari luar kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita berkata, “dia memang hebat.” Padahal di belakangnya ada banyak keadaan yang saling bertemu.

Sejarah memberikan banyak contoh. Nelson Mandela adalah salah satunya. Ia tentu memiliki kompetensi dan pengalaman yang panjang. Namun menariknya, ketika didorong menjadi kandidat presiden, Mandela pernah menyarankan agar orang yang lebih muda dipilih. Ia merasa ada orang lain yang lebih siap menghadapi masa depan.

Sejarah ternyata berkata lain. Mandela menjadi presiden Afrika Selatan pada 1994. Ia kemudian menjadi simbol rekonsiliasi dan kepemimpinan moral dunia.

Abraham Lincoln juga memberikan pelajaran serupa. Ia tidak lahir dari keluarga elite politik. Ia tumbuh sederhana dan banyak belajar secara mandiri. Namun ketika Amerika menghadapi Perang Saudara, ia muncul sebagai pemimpin pada salah satu masa paling menentukan dalam sejarah negara itu.

Harry Truman, bahkan, menunjukkan betapa tidak terduganya perjalanan hidup. Dia menjadi presiden setelah Franklin D. Roosevelt meninggal dunia pada 1945. Sebuah peristiwa yang tidak dirancang Truman tiba-tiba mengubah seluruh hidupnya. Dalam ilmu politik, kita menyebutnya contingency. Dalam bahasa sehari-hari mungkin disebut kebetulan. Dalam perspektif tauhid, kita melihatnya sebagai rangkaian sebab dalam perjalanan hidup.

Namun ada satu hal yang harus kita ingat. Terpilih menjadi pemimpin tidak otomatis berarti seseorang adalah manusia terbaik. Kekuasaan bukan sertifikat kesalehan. Keterpilihan juga bukan bukti bahwa semua tindakannya benar. Kekuasaan dapat menjadi kehormatan. Tetapi kekuasaan juga dapat menjadi ujian.

Karena itu, kita tetap harus menilai pemimpin secara objektif. Lihat kompetensinya. Lihat integritasnya. Lihat rekam jejaknya. Lihat dampak kebijakannya.

Tauhid bukan alasan untuk menutup mata terhadap kekurangan seseorang. Tetapi setelah semua penilaian manusia dilakukan, kita harus sadar bahwa hasil akhir tetap berada di luar kalkulasi kita.

Maka, jangan terlalu cepat meremehkan orang yang sedang naik. Jangan pula terlalu cepat mengkultuskannya. Kita hanya melihat satu bagian dari perjalanan. Mungkin ada jaringan yang bekerja. Ada momentum yang tepat. Ada kualitas yang belum kita lihat. Ada warisan keluarga. Ada doa yang tidak pernah kita dengar.

Dan, bagi orang beriman, mungkin seluruh sebab itu sedang bergerak dalam sebuah ketetapan yang jauh lebih besar daripada kemampuan manusia untuk memahaminya.

Manusia membaca kelayakan. Allah mengatur perjalanan. Kita melihat kompetensi. Allah melihat keseluruhan takdir. Karena itu, tugas kita bukan mengetahui seluruh rahasia takdir. Tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin. Menjaga amal. Memperbaiki diri. Mendoakan keturunan. Menjaga amanah. Dan tidak riya ketika diberi jalan.

Sebab, bisa jadi suatu hari seseorang melihat perjalanan hidup kita dan bertanya, “Mengapa dia bisa sampai sejauh itu?”  Jawabannya mungkin bukan hanya karena apa yang kita lakukan hari ini. Bisa jadi ada doa yang dipanjatkan jauh sebelum kita lahir. Ada kebaikan yang dilakukan orang-orang sebelum kita. Dan, di atas semua itu, ada kehendak-Nya yang sejak awal mengetahui ke mana perjalanan ini akan bermuara.

Mungkin, begitu pula sosok KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di panggung muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Wallahu A’lam bishawab. (*)

*) M. Sholahuddin, mantan wartawan Jawa Pos, pegiat literasi tinggal di Kabupaten Gresik.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.