KabarBaik.co, Malang – Polemik penimpaan mural bertuliskan “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, berbuntut panjang. Sejumlah grup musik yang sebelumnya dijadwalkan tampil dalam Festival Mbois 11 memilih menarik diri dari gelaran yang berlangsung di Stadion Gajayana, 21-23 Agustus 2026.
Keputusan tersebut menjadi bentuk sikap para musisi terhadap hilangnya mural yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai bagian dari identitas, sejarah, sekaligus ruang kultural masyarakat Malang. Mural karya Aremania itu sebelumnya ditimpa tulisan promosi Festival Mbois, “Malang Menyala Bersama”, pada Rabu (19/8), beberapa waktu lalu.
Sejumlah nama yang menyatakan mundur antara lain d’Kross, APA Rapper, Terraces88, Flying Dutchman, dan Can A Rock.
Penarikan diri para musisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan mural kini tidak lagi sebatas perdebatan mengenai karya seni di ruang publik. Polemik tersebut mulai berimbas langsung terhadap penyelenggaraan Festival Mbois 11 yang menjadi salah satu agenda kreatif di Kota Malang.
Road Manager d’Kross, Rahmat Mashudi Prayoga, membenarkan keputusan grup tersebut untuk tidak tampil. Menurutnya, mural “Malang The Glory Land” memiliki makna kuat dalam perjalanan Arek Malang dan Aremania.
“Menanggapi polemik terkait penimpaan mural Malang The Glory Land, d’Kross Official menyatakan sikap untuk mengundurkan diri dan tidak tampil dalam rangkaian Festival Mbois 11,” ujar Yoga, Jumat (21/8).
Di hari yang sama, sikap serupa juga disampaikan vokalis Can A Rock, Hadiaz. Ia secara tegas memastikan tidak akan mengisi penampilan Can A Rock dalam Festival Mbois 11 Malang Menyala yang digelar pada 21-23 Agustus 2026.
Menurut Hadiaz, keputusan tersebut bukan semata-mata persoalan musisi, melainkan bentuk sikap terhadap cara panitia memperlakukan karya yang dinilai memiliki keterikatan kuat dengan Aremania.
“Ini yang salah panitia, bukan musisinya,” tegas Hadiaz.
Ia menilai, apabila panitia memang ingin mengganti, memperbaiki, atau menambahkan tulisan pada mural tersebut, seharusnya komunikasi terlebih dahulu dilakukan dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan karya tersebut, termasuk korwil Aremania.
“Harusnya koordinasi dulu. Saya sebagai musisi kalau tiba-tiba melihat itu di tembok, akhirnya juga kaget,” ujarnya.
Hadiaz mengungkapkan selama ini komunikasi dengan pihak panitia lebih banyak membahas konsep penampilan dan persoalan teknis pertunjukan. Karena itu, perubahan terhadap mural yang dilakukan tanpa koordinasi sebelumnya menjadi hal yang menurutnya patut dipertanyakan.
“Kalau mau diapiki, ditambah, atau tulisannya diganti, seharusnya koordinasi dengan korwil dulu. Bisa ditanya, setuju atau tidak. Kalau tidak setuju, ya jangan dilakukan,” tandasnya.
Bagi Hadiaz, mural tersebut bukan sekadar tulisan di tembok. Karya itu dinilai telah menjadi bagian dari ekspresi seni dan identitas komunitas Aremania yang selama bertahun-tahun melekat di ruang publik Kota Malang.
Ia menilai, persoalan tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila komunikasi dilakukan sejak awal antara panitia dan pihak yang memiliki keterikatan dengan mural.
“Ini seolah-olah tidak menghargai teman-teman yang membuatnya. Padahal saya sendiri juga suka dan menghargai karya Aremania. Itu sudah melekat,” ujarnya.
Atas pertimbangan tersebut, Hadiaz memastikan dirinya tidak akan tampil bersama Can A Rock dalam Festival Mbois 11. Keputusan itu sekaligus menjadi bentuk sikap pribadinya terhadap polemik yang berkembang.
Meski mundur dari festival, aktivitas bermusik Can A Rock tetap berjalan. Hadiaz menyebut grupnya dijadwalkan tampil di Singosari pada 27 Agustus mendatang.
Polemik ini menjadi tekanan tersendiri bagi panitia Festival Mbois 11. Persoalan yang awalnya muncul akibat perubahan mural di kawasan Jalan Arif Rahman Hakim kini berkembang menjadi isu mengenai komunikasi, penghormatan terhadap karya, serta keterlibatan komunitas dalam setiap keputusan yang menyangkut simbol dan identitas mereka.
Bagi para musisi yang memilih mundur, persoalan “Malang The Glory Land” bukan sekadar tentang tulisan yang hilang dari sebuah tembok, tetapi menyangkut penghargaan terhadap karya dan sejarah kultural yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Malang. (*)






