KabarBaik.co, Malang – Kesenian tradisional di Malang Raya mulai kembali menunjukkan geliat. Aktivitas berbagai sanggar yang konsisten mempertahankan Wayang Topeng Malang, seni tari, karawitan, hingga kesenian rakyat dinilai menjadi momentum untuk memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya.
Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, mengatakan kebangkitan seni tradisional membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki daya tarik di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, kebudayaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Seni tradisi juga dapat menjadi modal sosial dan kekuatan pembangunan apabila mampu dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah identitas sekaligus modal sosial yang dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan. Ketika seni tradisi kembali diminati masyarakat dan generasi muda, berarti kita sedang melihat tumbuhnya energi baru bagi Malang Raya,” ujar Asep, di Taman Krida Budaya Jawa Timur, yang terletak di Kota Malang.
Salah satu kesenian yang mulai mendapatkan kembali perhatian masyarakat adalah Topeng Malang. Setelah sebelumnya menghadapi tantangan regenerasi, pertunjukan kesenian tersebut kini menunjukkan perkembangan positif, termasuk dari sisi jumlah penonton.
Asep menyebut jumlah penonton yang sebelumnya berada di kisaran 200 orang kini meningkat hingga sekitar 2.800 orang. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kesenian tradisional masih memiliki pasar apabila dikemas dengan pendekatan yang sesuai.
“Peningkatan jumlah penonton ini memberikan pesan bahwa masyarakat sebenarnya masih memiliki ruang dan ketertarikan terhadap seni tradisi. Yang diperlukan adalah bagaimana kita menghadirkan seni tersebut dengan kemasan yang menarik, ruang pertunjukan yang memadai, serta melibatkan generasi muda secara lebih aktif,” jelasnya.
Geliat kebudayaan tersebut juga tidak hanya berlangsung di pusat perkotaan. Sejumlah desa di Kabupaten Malang menjadi kantong budaya dengan keberadaan sanggar tari, kelompok karawitan, pelaku Topeng Malang, komunitas musik tradisional, hingga berbagai kesenian rakyat.
Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan secara terintegrasi. Menurut Asep, masing-masing komunitas tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri karena memiliki potensi untuk saling memperkuat.
“Kita memiliki desa-desa yang menjadi kantong budaya. Ada sanggar tari, kelompok karawitan, pelaku Topeng Malang, komunitas musik tradisional, hingga berbagai kesenian rakyat. Ini adalah aset kewilayahan yang harus kita orkestrasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Bakorwil III Malang, lanjut Asep, memiliki posisi penting dalam mendorong sinergi lintas daerah. Apalagi kawasan Malang Raya yang terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu memiliki keterhubungan erat dalam bidang pendidikan, pariwisata, ekonomi dan kebudayaan.
Ia menilai kebudayaan harus menjadi salah satu bagian dari desain pembangunan kawasan. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur dinilai tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan penguatan identitas daerah.
“Kita sedang berbicara tentang masa depan Malang Raya. Infrastruktur penting, ekonomi penting, investasi penting. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu identitas. Kemajuan kawasan tanpa identitas akan kehilangan karakter. Karena itu, kebudayaan harus menjadi bagian dari desain pembangunan kawasan,” jelasnya.
Pengembangan seni tradisional juga dinilai memiliki peluang besar untuk terhubung dengan sektor ekonomi kreatif. Pertunjukan budaya dapat dikolaborasikan dengan pariwisata, kuliner, kriya, fesyen, UMKM, industri kreatif, hingga promosi destinasi wisata.
Dengan demikian, keberadaan seniman tidak hanya diposisikan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah.
“Kita ingin melihat seniman bukan hanya tampil di panggung, tetapi juga tumbuh secara ekonomi. Sanggar berkembang, anak-anak muda memiliki ruang berekspresi, pertunjukan semakin berkualitas, wisatawan datang, UMKM bergerak. Kalau semua terkoneksi, maka kebudayaan bisa menjadi salah satu mesin ekonomi daerah,” ungkap Asep. (*)






