KabarBaik.co, Malang – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemprov Jatim menegaskan transformasi perannya menjadi katalisator pembangunan dan penggerak kolaborasi lintas sektor guna mempercepat pembangunan kewilayahan, khususnya di kawasan selatan Jawa Timur.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar saat menjadi narasumber dalam Podcast Ruang Informasi Episode ke-100 yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim, Rabu (17/6). Mengusung tema “DNA Baru Bakorwil Malang: Kolaborasi, Gotong Royong, dan Solusi Pembangunan Inklusif”, forum tersebut menjadi momentum penegasan arah baru peran Bakorwil dalam mendukung pembangunan daerah.
Saat ditemui, Asep menjelaskan tantangan pembangunan yang semakin kompleks menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan kolaboratif. Karena itu, Bakorwil Malang melakukan penyegaran paradigma melalui DNA baru yang berlandaskan tiga nilai utama, yakni kolaborasi, gotong royong, dan solusi.
“Bakorwil tidak lagi cukup hanya menjalankan fungsi koordinasi administratif. Kami ingin hadir sebagai katalisator pembangunan yang mampu menyatukan berbagai kekuatan dan sumber daya untuk mempercepat penyelesaian persoalan pembangunan di wilayah,” ujarnya, Rabu (18/6).
Menurutnya, Bakorwil merupakan representasi Pemprov Jatim di wilayah yang berfungsi sebagai ruang bersama bagi berbagai pemangku kepentingan. Melalui peran tersebut, Bakorwil mempertemukan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, dunia usaha, perguruan tinggi, media, komunitas, hingga masyarakat dalam semangat pembangunan yang terintegrasi.
Selain memastikan program prioritas Pemprov Jatim berjalan selaras di daerah, Bakorwil juga berfungsi sebagai jembatan strategis yang menyampaikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat kepada pemerintah provinsi sebagai bahan penyusunan kebijakan.
“Pembangunan yang efektif adalah pembangunan yang mampu menghubungkan visi besar pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Karena itu, komunikasi dua arah antara pemerintah provinsi dan daerah harus terus diperkuat,” terang dia.
Asep menilai keberagaman karakteristik wilayah kerja Bakorwil Malang, mulai dari kawasan perkotaan, pertanian, pegunungan, pesisir hingga kawasan selatan, merupakan potensi besar yang dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila dikelola melalui kolaborasi yang baik.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak lagi terbatas pada koordinasi program semata, tetapi juga membangun ruang dialog, memperkuat sinergi antarwilayah, serta mengurangi ego sektoral yang selama ini menjadi salah satu hambatan percepatan pembangunan.
“Ketika semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka sekat-sekat sektoral akan semakin berkurang. Yang muncul adalah semangat gotong royong untuk menghadirkan solusi,” tegasnya.
Asep menegaskan bahwa pembangunan yang didorong Bakorwil Malang berorientasi pada prinsip inklusif. Dengan demikian, manfaat pembangunan diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan, pelaku UMKM, petani, nelayan, perempuan, generasi muda, hingga masyarakat yang tinggal di kawasan perdesaan dan wilayah selatan Jawa Timur.
Bahkan, ia juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan kawasan selatan Jawa Timur yang dinilai memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, pariwisata hingga ekonomi kreatif.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Bakorwil Malang mengorkestrasi berbagai langkah strategis, antara lain melalui penguatan konektivitas wilayah, percepatan hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan iklim investasi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami memandang kawasan selatan bukan lagi sebagai wilayah pinggiran pembangunan, tetapi sebagai beranda masa depan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Potensi yang dimiliki sangat besar dan harus dikelola secara terintegrasi agar mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Asep, keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) dan sejumlah infrastruktur strategis lainnya menjadi peluang besar untuk membuka akses ekonomi baru, memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, sekaligus menarik investasi yang berkualitas.
Melalui transformasi tersebut, Bakorwil Malang berkomitmen menjadi simpul kolaborasi pembangunan yang mampu menyatukan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, dan masyarakat dalam satu visi pembangunan bersama.
“Semangat yang kami bangun adalah membangun Selatan Jawa Timur dengan memberdayakan potensi, mempercepat konektivitas, dan mengakselerasi kesejahteraan. Inilah wujud nyata transformasi Bakorwil Malang sebagai katalisator pembangunan dan penggerak ekonomi kawasan selatan,” pungkasnya. (*)






