Musim Kemarau, BPBD Kota Batu Ingatkan Aktivitas Pemicu Kebakaran Hutan dan Lahan

oleh -72 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 18 at 2.41.18 PM
Karhutla yang terjadi di Kota Batu beberapa waktu lalu (foto: Putut Priyono)

KabarBaik.co, Baru – BPBD Kota Batu mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar apabila muncul sumber api di kawasan hutan.

Saat ditemui, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan faktor manusia masih menjadi salah satu penyebab dominan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, sejumlah aktivitas yang terlihat sederhana dapat memicu kebakaran apabila dilakukan tanpa memperhatikan kondisi sekitar. Di antaranya pembakaran lahan, penggunaan api unggun hingga membuang puntung rokok sembarangan.

“Kalau kita lihat prosentasenya, rata-rata kejadian itu disebabkan oleh manusia. Bisa karena aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkontrol, kegiatan api unggun yang tidak dipadamkan dengan benar, sampai pembuangan puntung rokok di area yang kering,” ujar Gatot, Selasa (18/8).

Gatot meminta masyarakat tidak meremehkan bara kecil dari puntung rokok, terutama ketika berada di kawasan yang dipenuhi rumput dan daun kering. Bara tersebut dapat kembali menyala dan menjadi sumber api.

Terlebih, hembusan angin dapat membuat api dengan cepat membesar dan merambat ke area lain. Kondisi lahan yang kering selama musim kemarau turut memperbesar risiko penyebaran api.

Selain puntung rokok dan api unggun, aktivitas perburuan di kawasan hutan juga disebut pernah dikaitkan dengan munculnya kebakaran.

“Mungkin pernah terjadi juga karena ulah para pemburu yang mencari buruannya, akhirnya menimbulkan kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian BPBD adalah Gunung Panderman. Kawasan tersebut masih ramai dikunjungi masyarakat untuk melakukan pendakian, tektok maupun berkemah.

BPBD meminta para pengunjung lebih berhati-hati ketika membawa sumber api. Puntung rokok harus dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang.

“Kami mengimbau kepada teman-teman yang melakukan aktivitas pendakian atau camping. Kalau memang merokok, pastikan puntung rokok benar-benar padam dan dibuang pada tempatnya. Jangan dibuang sembarangan karena bisa menimbulkan percikan api,” tegas Gatot.

Penggunaan api unggun juga harus memperhatikan jarak dari material yang mudah terbakar. Setelah kegiatan selesai, api dan bara wajib dipastikan sudah benar-benar padam.

BPBD menyarankan bara api ditimbun dengan tanah agar tidak kembali menyala dan memercik ke dedaunan maupun rumput kering di sekitarnya.

“Usahakan setelah selesai, api benar-benar padam. Kalau bisa ditimbun dengan tanah supaya tidak ada bara yang keluar dan memercik ke daun-daun kering atau rumput di sekitarnya,” tambahnya.

Menghadapi ancaman Karhutla, BPBD Kota Batu telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak yang memiliki wilayah kerja di kawasan hutan. Koordinasi tersebut melibatkan Perhutani, Tahura Raden Soerjo dan lintas sektor terkait.

Upaya pencegahan dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat, patroli bersama serta pengawasan di sejumlah lokasi yang dianggap rawan. Langkah tersebut menjadi penting karena potensi kebakaran tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga perilaku manusia.

Berdasarkan catatan BPBD, Kota Batu sempat mengalami Karhutla cukup luas pada 2023. Saat itu, lahan yang terbakar mencapai sekitar 237 hektare. Sedangkan pada 2024 tidak tercatat kejadian Karhutla di wilayah Kota Batu.

Gatot menyebut catatan kejadian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola tertentu. Pada 2018 terjadi kebakaran, kemudian relatif aman pada 2020 hingga 2022 sebelum kembali terjadi pada 2023.

“Kalau kita lihat historisnya, kejadian kebakaran hutan lahan di Kota Batu ini seperti ada loncatan dua tahunan. 2018 ada kejadian. Kemudian 2020-2021 tidak ada, sampai 2022 juga aman, 2023 ada lagi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat BPBD mulai melakukan persiapan lebih serius untuk menghadapi potensi kebakaran pada 2027. Terlebih, faktor manusia disebut masih menjadi salah satu sumber risiko yang perlu diantisipasi.

“Nah 2027 ini yang kami persiapkan betul-betul karena melihat historisnya. Apalagi penyebab banyaknya juga karena faktor manusia,” kata Gatot.

Ia menambahkan sumber kebakaran juga tidak selalu berasal dari wilayah Kota Batu. Pada kejadian 2023, titik api awal disebut berada di wilayah Pasuruan dan Kabupaten Malang. Api kemudian merembet ke wilayah Kota Batu akibat kondisi lahan yang kering dan pengaruh angin.

Karena itu, pencegahan Karhutla dinilai tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kesadaran masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya sumber api.

BPBD Kota Batu bersama Perhutani dan Tahura Raden Soerjo pun akan terus memperkuat patroli, edukasi serta pengawasan di kawasan rawan. Untuk itu, masyarakat diminta tidak menganggap sepele aktivitas apa pun yang berpotensi menghasilkan api selama musim kemarau. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.