KabarBaik.co – Memasuki puncak musim hujan di awal tahun 2025, sebanyak 17 warga Kota Kediri dinyatakan terjangkit virus chikungunya. Rinciannya di Kelurahan Blabak sebanyak 12 kasus dan Kelurahan Bawang sejumlah 5 kasus.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan pada umumnya gejala penderita chikungunya hampir sama dengan Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Gejalanya yaitu panas, pusing, sakit kepala cuma bedanya kalau chikungunya itu kan ada nyeri hebat di persendian sampai kadang tidak bisa jalan. Seperti kayak kelumpuhan sementara,” katanya, Selasa (7/1).
Meski demikian chikungunya ini bisa sembuh sendiri, dan tidak perlu sampai ke rumah sakit. Cukup berobat jalan saja menggunakan obat anti nyeri. Penyembuhannya rata-rata memakan waktu antara 7 sampai 10 hari.
“Chikungunya ini proses penyebarannya cepat banget. Jadi begitu ada satu yang sakit itu biasanya di beberapa tempat di sekitarnya itu bermunculan,” tambahnya.
Menurut Hendi, kini beberapa penderita chikungunya di Kelurahan Blabak sudah banyak yang dinyatakan sembuh dan berhasil jalan serta beraktifitas normal seperti sediakala.
Diungkapkan penyebab chikungunya dengan DBD ialah sama-sama disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Yang membedakannya hanyalah perantara virusnya.
Meski demikian fogging pun masif dilakukan untuk mencegah merebaknya penyakit tersebut. Beruntungnya sampai saat ini belum ada laporan terkait temuan DBD.
Hendi pun mewanti-wanti agar masyarakat bisa memberantas sarang nyamuk agar meniadakan berkembangbianya nyamuk aedes.
“Minimal paling jarang seminggu sekali kamar mandi dikuras, di lingkungan musim penghujan harus waspada rumah kosong banyak barang bekas berisi genangan air,” tambahnya. (*)








