KabarBaik.co, Jombang — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Jombang menggelar sarasehan dalam rangka Bulan Bung Karno di kantor DPC PDIP Jombang, Senin (1/6) malam.
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi yang mempertemukan kader partai, mahasiswa, budayawan, hingga pemerhati sejarah untuk membahas kembali jejak kelahiran Presiden pertama RI, Soekarno, yang diyakini berada di Kecamatan Ploso, Jombang.
Wakil Ketua Bidang DPC PDIP Jombang, Andika Wahyono, mengatakan sarasehan tersebut sejatinya merupakan agenda rutin yang selama ini dilakukan partai. Namun, momentum Hari Lahir Pancasila yang bertepatan dengan Bulan Bung Karno dimanfaatkan untuk mengangkat kembali diskursus sejarah terkait tempat kelahiran sang proklamator.
“Ini sebenarnya forum diskusi yang sudah lama berjalan. Kebetulan kami mengambil momentum 1 Juni, yang juga Hari Lahir Pancasila, untuk kembali membedah dan mendiskusikan kelahiran Bung Karno,” ujar Andika dalam keterangannya, Selasa (2/6).
Dalam diskusi itu, sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang dihadirkan untuk memberikan sudut pandang berbeda. Salah satunya akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang memaparkan sejumlah bukti yang selama ini menjadi dasar anggapan bahwa Soekarno lahir di Surabaya.
Di sisi lain, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang juga menyampaikan berbagai temuan yang menguatkan dugaan bahwa Bung Karno lahir di Ploso. Mulai dari kisah orang yang merawat Soekarno saat bayi hingga keberadaan ari-ari yang diyakini dimakamkan di wilayah tersebut.
“Paparan dari kedua pihak sangat menarik. Yang ingin kami gali sebenarnya bukan semata kontroversi tempat lahirnya, tetapi bagaimana pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme, Trisakti, dan implementasinya hari ini bisa kembali dipahami generasi muda,” kata Andika.
Menurut dia, sarasehan tersebut juga menjadi bagian dari program peningkatan kapasitas kader dan kalangan muda. Dengan diskusi rutin, peserta tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga memperoleh tambahan wawasan dan perspektif yang lebih luas.
“Banyak mahasiswa yang hadir. Ini bagian dari proses upgrading agar keilmuan kita terus bertambah dan tidak monoton,” ujarnya.
Sementara itu, budayawan Jombang, Nasrul Illah atau yang akrab disapa Cak Nas, menilai dukungan PDIP terhadap upaya penetapan Ploso Jombang sebagai lokasi kelahiran Soekarno merupakan langkah positif.
Menurut dia, respons cepat yang ditunjukkan PDIP Jombang menjadi energi baru dalam mendorong pengakuan resmi terhadap situs yang diyakini sebagai tempat lahir Bung Karno.
“Siapa pun yang mendukung upaya ini tentu kami apresiasi. Bung Karno milik seluruh rakyat Indonesia, bukan milik kelompok atau partai tertentu,” kata Cak Nas.
Ia berharap pemerintah segera mengambil keputusan terkait status situs tersebut. Bahkan, ia menargetkan penetapan bisa dilakukan sebelum akhir tahun 2026.
“Kalau bisa sebelum September atau November sudah ada keputusan. Jangan sampai lewat tahun ini karena akan semakin berat prosesnya,” ujarnya.
Cak Nas menambahkan, pihaknya bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang terus mendorong tindak lanjut dari Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur untuk memfasilitasi pertemuan dengan pihak Surabaya.
Menurut dia, dialog tersebut penting agar polemik mengenai lokasi kelahiran Bung Karno dapat dibahas secara terbuka berdasarkan data dan kajian sejarah.
“Kalau nanti Surabaya tetap pada pendiriannya, tidak masalah. Yang penting prosesnya berjalan dan kajian sejarahnya terus dilakukan. Kami ingin semua fakta bisa dipertemukan dalam satu forum,” kata dia.
Bagi Cak Nas, perdebatan mengenai lokasi kelahiran Soekarno seharusnya tidak menjadi ajang saling mempertentangkan daerah. Yang lebih penting adalah menjaga dan merawat warisan sejarah bangsa agar dapat dipahami oleh generasi mendatang.
“Yang terpenting adalah sejarahnya bisa diungkap secara utuh dan menjadi pengetahuan bersama,” tuturnya.








