KabarBaik.co – Migrant Care menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tematik dalam rangka memperingati Hari Pekerja Migran Sedunia (International Migrants Day/IMD). Forum tersebut digelar tiga hari di Banyuwangi.
Pada forum tersebut para pekerja migran Banyuwangi menyampaikan sejumlah persoalan buruh migran yang ada di Bumi Blambangan. Mulai dari sisi sosial, ekonomi, politik dan hukum.
“Buruh migran jarang bisa bersuara karena dianggap marjinal. Maka pada forum ini kami suarakan persoalan-persoalan pekerja migran yang ada selama ini,” kata Wiwik Winarsih mantan Pekerja Migran asal Kecamatan Pesanggaran.
Ia menyebut saat ini persoalan pekerja migran cukup komplit. Dari sisi ekonomi misalnya pekerja migran dan keluarganya jarang yang pandai mengelola keuangan. Bekerja di luar negeri terkadang tak berwujud dan tidak ada hasilnya.
“Setelah pulang kembali ke tanah air banyak PMI akhirnya bingung akan bekerja apa. Buka usaha juga tidak punya skil. Makanya lewat forum ini kami bersuara supaya mendapat perhatian,” terangnya.
Dari sisi hukum, kata dia, pekerja migran rawan dieksploitasi dan terjebak pada praktik perdagangan manusia. Terutama mereka yang bekerja unprosedural.
“Itu masih menjadi masalah yang perlu dicarikan solusi untuk antisipasi dan penanganan bila terjadi kasus,” ujarnya.
Suprihati mantan buruh migran asal Tegaldlimo menambahkan untuk penguatan saat ini mantan pekerja berhimpun pada Desbumi (Desa Peduli Buruh Migran). Di Banyuwangi sudah ada 12 Desbumi.
Selain mendorong upaya perlindungan pekerja migran lembaga ini juga memberi wadah bagi eks pekerja migran untuk berkreasi lewat pendampingan usaha dan pelatihan.
“Pendampingan seperti menjahit, menganyam, jualan makanan termasuk penjualan digital. Para pekerja dibantu oleh Desbumi,” tandasnya.
Kepala Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Jember, Miftahul Munir turut menjadi peserta pada forum yang dihadiri oleh 300 pekerja migran dari sejumlah kota di Indonesia tersebut. Melalui forum ini, ia berharap dapat bertukar gagasan dengan para peserta lainnya.
“Isu pekerja migran sudah sering digaungkan. Tapi implementasi dibawah masih sangat minim sehingga perlu dikuatkan lagi,” kata dia.
Ia menyebut masih banyak aparat desa yang kurang perhatian terhadap isu ini. Padahal desa berperan menjadi filter untuk mengantisipasi masyarakat bermigrasi secara ilegal.
“Persoalan awal itu dari desa, terkait dengan dokumen dan perlengkapan administrasi lainnya. Sehingga lewat forum ini kami ingin berdiskusi untuk mencari solusi perlindungan pekerja migran,” tandasnya.
Sebagai informasi Musrenbang Tematik berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Banyuwangi dan Jember (Jawa Timur), Indramayu (Jawa Barat), Wonosobo dan Kebumen (Jawa Tengah), Lombok Tengah (NTB), serta Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Musrenbang tematik ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan pekerja migran sekaligus menyerap aspirasi langsung dari para pekerja migran sebagai dasar advokasi Migrant Care selama setahun ke depan.







