Pelajar SMPN 1 Purwosari Bojonegoro Ubah Bonggol Pisang Jadi Bahan Pencegah Kanker

oleh -73 Dilihat
IMG 20260509 WA0017
Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus saat meneliti di lab SMPN 1 Purwosari. (Foto: Shohibul Umam) 

KabarBaik.co, Bojonegoro – Limbah bonggol pisang yang selama ini kerap terbuang percuma kini memiliki potensi baru sebagai bahan penelitian kesehatan. Dua pelajar SMP Negeri 1 Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus, berhasil mengembangkan inovasi berbasis bahan alam yang berpotensi menjadi kandidat agen kemopreventif alami untuk mendukung pencegahan perkembangan sel kanker.

Penelitian yang mereka beri judul “The Invisible Killer: Bio-Skrining Sitotoksisitas Musa paradisiaca sebagai Kandidat Agen Kemopreventif Alami” ini berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka kasus kanker serta mahalnya biaya pengobatan modern. Selain itu, bonggol pisang yang melimpah di lingkungan sekitar mereka dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

“Penelitian ini kami lakukan karena kami melihat tingginya angka penderita kanker serta mahalnya biaya pengobatan modern,” ujar Alvin. Ridwan menambahkan, “Apalagi bonggol pisang melimpah di sini, dan selama ini hanya menjadi limbah,” Sabtu (9/5).

Dalam penelitian tersebut, bonggol pisang diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol untuk menarik senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi serta potensi sitotoksik yang dapat menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Keunggulan inovasi ini terletak pada pendekatan bio-skrining yang sederhana namun terukur. Alvin dan Ridwan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), yakni pengujian terhadap larva udang Artemia salina untuk mengetahui tingkat toksisitas ekstrak. Dalam metode ini, ekstrak diuji pada beberapa konsentrasi untuk melihat tingkat kematian larva sebagai indikator potensi sitotoksisitas.

“Artinya, semakin kecil nilai LC50 atau konsentrasi yang mematikan 50 persen organisme uji, maka semakin besar potensi bahan tersebut sebagai kandidat agen antikanker,” jelas Alvin.

Selain uji sitotoksisitas, penelitian ini juga dilengkapi dengan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode sederhana berbasis larutan iodin. Pengujian tersebut bertujuan mengetahui kemampuan ekstrak dalam menetralisir radikal bebas. “Radikal bebas menjadi pemicu utama kerusakan DNA dan dapat menjadi awal mula terbentuknya sel kanker,” tegas Ridwan.

Menurut keduanya, inovasi ini tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan penelitian merupakan bentuk upcycling limbah organik menjadi produk bernilai guna.

Guru pembimbing, Tri Ismulyanto, menyampaikan bahwa penelitian tersebut dilakukan secara mandiri oleh kedua siswa mulai April hingga Agustus 2026 dengan pendampingan di laboratorium sekolah. “Kami mengapresiasi semangat riset yang ditunjukkan para siswa dalam mengembangkan potensi bahan alam lokal. Semoga dapat di kembangkan dan memberi manfaat untuk banyak orang,” harapnya.

Melalui karya ini, Alvin dan Ridwan berharap bonggol pisang yang selama ini dianggap limbah dapat menjadi solusi alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat serta membuka peluang penelitian lanjutan dalam pengembangan obat berbasis bahan alam Indonesia. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.