KabarBaik.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 3,6 triliun pada 2026 dengan fokus utama pada sektor nonminyak dan gas (nonmigas). Target tersebut disusun setelah capaian investasi pada 2025 menembus Rp 3,5 triliun yang masih didominasi usaha besar dan sektor pertambangan.
Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro, Joko Tri Cahyono, menyampaikan bahwa hingga 15 Desember 2025, realisasi investasi berdasarkan data Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA) mencapai Rp 3,52 triliun.
“Realisasi investasi ini menunjukkan iklim usaha di Bojonegoro tetap kompetitif dan menarik bagi investor,” ujar Joko Tri, Jumat (2/1).
Ia merinci, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mendominasi dengan nilai Rp 3,45 triliun. Sementara penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 69,76 miliar. Menurutnya, tingginya PMDN menegaskan bahwa potensi ekonomi lokal masih menjadi magnet utama bagi investor nasional.
Dari sisi sektor usaha, pertambangan mencatat nilai investasi terbesar dengan Rp 971,5 miliar. Joko Tri menilai capaian tersebut menegaskan posisi Bojonegoro sebagai wilayah strategis eksplorasi dan ekstraksi energi, sekaligus salah satu lumbung energi di Jawa Timur.
Selain pertambangan, sektor perdagangan dan reparasi menyumbang investasi Rp 603,13 miliar. Sektor industri makanan menyusul dengan Rp 524,09 miliar, diikuti sektor konstruksi sebesar Rp 427,27 miliar seiring pesatnya pembangunan infrastruktur publik dan swasta. Berdasarkan skala usaha, investasi masih didominasi usaha besar dengan nilai Rp 2,15 triliun.
Sementara usaha mikro mencatat Rp 477,95 miliar, usaha kecil Rp 644,13 miliar, dan usaha menengah Rp 246,38 miliar. Joko menilai kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan permodalan dan daya saing bagi pelaku usaha kecil dan menengah. “Ke depan, kami mendorong UMKM agar lebih terlibat dalam ekosistem investasi daerah,” jelasnya.
Pemkab Bojonegoro berharap pertumbuhan investasi mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pemerataan pembangunan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat multiplier effect bagi sektor riil dan UMKM lokal.
“Capaian ini memperkuat posisi Bojonegoro sebagai daerah yang tidak hanya bergantung pada migas, tetapi juga mampu mengembangkan diversifikasi ekonomi menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Joko Tri.
Ia menambahkan, target investasi 2026 sebesar Rp 3,6 triliun akan difokuskan pada sektor nonmigas sebagai langkah strategis memperkuat struktur ekonomi daerah.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, tahun ini terdapat beberapa perusahaan besar yang akan berdiri di Bojonegoro, mulai dari perusahaan rokok, retail dan sepatu. “Yang jelas investor yang akan masuk ke kabupaten Bojonegoro merupakan perusahaan padat karya yang akan menyerap tenaga kerja lokal untuk mengurangi pengangguran,” ujar Bupati. (*)






