KabarBaik.co, Blitar – Fenomena war takjil yang marak selama bulan Ramadan di Kota Blitar dinilai sebagai dinamika sosial yang wajar. Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar melihat tingginya antusiasme masyarakat tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Blitar, Gigih Mardana mengatakan, karakter masyarakat perkotaan membuat aktivitas Ramadan berkembang secara dinamis. Menurutnya, Ramadan tidak semata menjadi momentum ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial.
“Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Ramadan juga menjadi momentum bergeraknya ekonomi daerah. Dampaknya sangat terasa bagi pedagang kecil dan UMKM yang omzetnya meningkat selama Ramadan,” ujarnya, Rabu (4/3).
Selain berdampak pada perekonomian, lanjut Gigih, fenomena war takjil yang melibatkan lintas agama dinilai mencerminkan kehidupan sosial yang inklusif di tengah masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Interaksi tersebut menunjukkan terbangunnya harmoni sosial, selama tetap menjaga etika dan ketertiban.
“Ini merupakan realitas kebhinekaan di tengah masyarakat yang beragam. Selama saling menghormati, kami melihatnya sebagai ruang sosial yang cair dan harmonis,” kata Gigih.
Pemkot Blitar mengimbau masyarakat agar fenomena war takjil tidak dimaknai sebagai ajang kompetisi yang dapat memicu kegaduhan. “Kami berharap war takjil menjadi media untuk saling berbagi dan saling menghormati. Yang berpuasa tetap bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk, sementara yang tidak berpuasa tetap menghargai suasana Ramadan,” pungkasnya. (*)








