KabarBaik.co, Mataram – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap dapat segera menuntaskan proses perizinan pertambangan rakyat. Sekretaris Daerah NTB Lalu Moh. Faozal, menegaskan urgensi percepatan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) sebagai solusi atas maraknya tambang ilegal dan menjadi solusi atas anjloknya pendapatan daerah.
Sekda menyampaikan bahwa saat ini kondisi fiskal NTB tengah tertekan akibat pemotongan dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat sebesar Rp 1,2 triliun.
“Potensi IPR adalah hal yang bisa menyelamatkan NTB dari sisi PAD. Kita punya kontribusi besar pada negara, namun fiskal kita sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Meskipun terdapat 16 usulan IPR yang masuk, hingga saat ini baru satu lokasi yang berhasil diproses sebagai proyek percontohan, yakni di Selanong, Bukit Mas Bangket. Itu pun masih menyisakan kendala teknis terkait reklamasi pasca tambang dan kesiapan administrasi koperasi penambang.
Hambatan utama yang diidentifikasi adalah adanya perbedaan interpretasi aturan antara sektor ESDM, Lingkungan Hidup (LHK), dan Koperasi. Ketidaksinkronan ini dinilai rentan menimbulkan masalah hukum.
”Kami tidak ingin pemerintah daerah hanya menjadi siswanya aparat penegak hukum di kemudian hari karena salah menerjemahkan regulasi. Itulah mengapa Kepolisian dan Kejaksaan dihadirkan untuk mengawal proses ini agar transparan dan akuntabel,” tegas Faozal.
Dalam diskusi iru, Pemprov NTB menetapkan empat langkah strategis: mengidentifikasi masalah penataan tambang, merumuskan strategi legalisasi yang transparan, mendorong sinergi lintas sektor dari Pusat, Daerah dan APH, serta menyusun rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan.
Langkah ini juga diharapkan dapat mempercepat pembahasan Perda Inisiatif DPRD NTB tentang pertambangan. Menariknya, komitmen NTB dalam menata IPR telah menarik perhatian nasional, terbukti dengan kunjungan studi banding dari Pemerintah Provinsi Gorontalo beberapa waktu lalu.
“Masyarakat sudah menunggu. Kita tidak bisa menunda lagi. Percepatan regulasi ini adalah kunci untuk mengubah tambang ilegal menjadi sektor legal yang menyejahterakan rakyat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB Samsudin, memaparkan kondisi terkini mengenai progres Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di wilayah NTB.
Dalam laporannya, ia mengungkapkan bahwa dari 16 usulan yang diterima, baru satu lokasi yang berhasil berjalan sebagai proyek percontohan. Lokasi percontohan tersebut berada di Bukit Selonong Sumbawa, namun dirinya mengakui bahwa operasionalnya masih jauh dari kata sempurna.
“Proyek di Selonong ini menjadi dummy, tapi di lapangan kita masih berhadapan dengan masalah lingkungan terkait reklamasi pasca tambang serta masalah internal koperasi yang belum tuntas administrasinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kadis ESDM menyoroti adanya benturan regulasi antara tiga sektor utama: ESDM, Lingkungan Hidup (LHK), dan Koperasi.(*)






