KabarBaik.co, Batu – Cuaca panas dan kondisi kemarau ekstrem menjadi perhatian serius bagi para pegiat kegiatan luar ruang. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat membuat komunitas dan penyelenggara outbound memperketat langkah pencegahan di setiap lokasi kegiatan.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan Provider Outbound Indonesia (HPOI) periode 2025-2028, Andrea Angga Januar Putra, yang juga Owner Ciliwung Camp, mengingatkan seluruh pelaku kegiatan outbound agar tidak mengabaikan potensi munculnya sumber api sekecil apa pun.
Peringatan tersebut menjadi bagian dari upaya antisipasi agar aktivitas wisata dan outbound tidak justru memicu kebakaran, terutama di kawasan terbuka, perbukitan, maupun lokasi yang memiliki vegetasi kering.
“Kegiatan di bulan Agustus ini lebih utamanya kita arahkan pada yang namanya fun, dengan menghindari adanya potensi percikan api yang dapat memicu kebakaran di daerah-daerah rawan,” ujarnya, Rabu (26/8).
Sebagai langkah pencegahan, penyelenggara outbound menerapkan SOP yang lebih ketat. Salah satunya dengan menerapkan prinsip zero waste di lokasi kegiatan. Peserta maupun penyelenggara diwajibkan tidak meninggalkan sampah yang berpotensi menjadi bahan mudah terbakar.
Aktivitas yang berhubungan langsung dengan api juga untuk sementara ditiadakan. Sejumlah program outbound yang biasanya menggunakan elemen api disesuaikan atau dihentikan sementara hingga kondisi dinilai lebih aman.
Menurut Andrea, kondisi cuaca panas dan kering membuat kawasan yang memiliki banyak material mudah terbakar menjadi lebih rentan. Percikan api yang terlihat kecil dapat berkembang menjadi kebakaran apabila terjadi di tengah kondisi lingkungan yang kering dan berangin.
Karena itu, kewaspadaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola kegiatan, tetapi juga seluruh peserta dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran. “Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk kepedulian komunitas outbound terhadap keselamatan publik dan kelestarian lingkungan,” tandasnya.
Dengan memperketat SOP serta menghindari aktivitas yang berpotensi memunculkan api, risiko kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat ditekan selama periode cuaca panas dan kemarau ekstrem. (*)







