KabarBaik. co – Harapan besar para petani kedelai di Kecamatan Kesamben, Jombang, pupus sudah. Cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir membuat hasil panen kedelai jeblok dan harga jualnya ikut anjlok.
Fenomena kemarau basah, yakni turunnya hujan deras di tengah musim kemarau, membuat tanaman kedelai tidak tumbuh optimal. Akibatnya, hasil panen menurun drastis, sementara harga di tingkat petani merosot tajam.
Miskun, petani asal Desa Podoroto, mengaku kecewa dengan hasil panen tahun ini. Selain produksinya berkurang, kualitas kedelai pun jauh dari harapan.
“Menjelang panen harga kedelai turun di kisaran Rp 6 ribu per kilogram. Padahal biasanya bisa sampai Rp 14 ribu. Panen kali ini ya cuma cukup buat biaya. Daripada sawah tidak ditanami, ya tetap tanam kedelai walau hasilnya pas-pasan,” keluh Miskun Kamis (13/11).
Miskun menuturkan biaya produksi justru semakin tinggi seiring naiknya harga bibit dan tenaga kerja.
“Biaya tanam mulai dari bibit sampai tenaga kerja sekitar Rp 1,5 juta. Panen juga butuh biaya besar. Soal untung belum tahu, karena baru dipanen dan hasilnya belum dihitung,” ujarnya.
Menurut Miskun, cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab utama menurunnya hasil panen. Panas terik yang tiba-tiba disusul hujan deras membuat bunga kedelai banyak yang rontok dan polong tidak terisi penuh.
“Kedelai ini tanaman yang manja. Kalau kebanyakan air, akarnya busuk. Kalau terlalu panas, bunganya rontok. Sekarang cuacanya sulit diprediksi, kami cuma bisa pasrah,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kesamben, Anasrul Hakim, membenarkan bahwa fenomena kemarau basah berdampak langsung terhadap produktivitas kedelai di wilayahnya.
“Di Kecamatan Kesamben ada pola tanam padi atau kedelai. Dari total 4.125 hektare, sekitar 1.300 hektare merupakan lahan bero yang biasanya dimanfaatkan untuk menanam kedelai,” jelasnya.
Namun, program Optimalisasi Lahan (OPLAH) tahun ini menghadapi tantangan besar karena kondisi tanah terlalu lembap.
“Musim ini kemarau basah, jadi meskipun ada program OPLAH, kandungan air terlalu tinggi. Itu membuat isi polong kedelai tidak maksimal. Harapannya nanti harga bisa menolong,” ungkapnya.
Di Desa Podoroto sendiri, lanjut Anasrul, hasil panen turun cukup signifikan.
“Produktivitasnya menurun. Dari lahan sekitar 1.400 meter persegi hanya menghasilkan sekitar 4 kuintal. Tahun kemarin hasilnya lebih bagus,” ujarnya. (*)








