Peternak Ayam Petelur di Jombang Menjerit Imbas Harga Telur Anjlok dan Biaya Pakan Meroket

oleh -150 Dilihat
Peternak ayam petelur di Jombang mengeluhkan harga telur yang anjlok.(teguh)
Peternak ayam petelur di Jombang mengeluhkan harga telur yang anjlok.(teguh)

KabarBaik.co, Jombang – Peternak ayam petelur di Jombang menghadapi situasi sulit. Harga telur ayam di pasaran anjlok dalam beberapa pekan terakhir. Sementara harga pakan ternak justru terus naik.

Salah satu peternak ayam petelur di Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Fatkurrohman, 60, mengatakan harga telur sempat turun hingga Rp 21 ribu per kilogram. Meski kini mulai merangkak naik, harga tersebut dinilai masih belum mampu menutup biaya produksi.

“Sekarang mulai naik sedikit demi sedikit. Informasi terakhir di Blitar sekitar Rp 23 ribu per kilogram,” kata Fatkurrohman kepada wartawan, Senin (25/5).

Menurutnya, harga telur ideal agar peternak masih mendapat keuntungan berada di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram. Jika di bawah angka tersebut, peternak hanya bisa menutup biaya operasional harian.

Fatkurrohman menilai anjloknya harga telur dipengaruhi melimpahnya produksi di tingkat peternak yang tidak diimbangi penyerapan pasar. Banyak peternak sebelumnya menambah populasi ayam karena berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu menyerap hasil produksi telur.

“Banyak yang menambah kandang karena berharap pasar dari program MBG bisa menyerap produksi telur, tapi sampai sekarang belum terasa dampaknya,” ujarnya.

Di sisi lain, biaya produksi justru terus meningkat. Harga bahan baku pakan seperti jagung dan konsentrat mengalami kenaikan beberapa kali sejak Ramadan hingga usai Lebaran.

Akibat kondisi tersebut, Fatkurrohman mengaku merugi hampir selama satu bulan terakhir. Saat harga telur berada di angka Rp 21 ribu per kilogram, ia mengalami kerugian sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu per hari.

“Kalau harga sekarang sekitar Rp 23 ribu, rugi di tenaga dan operasional kandang,” tuturnya.

Saat ini Fatkurrohman memelihara sekitar 5 ribu ekor ayam petelur. Dari jumlah itu, sekitar 4 ribu ekor masih dalam masa produktif.

Ia menjelaskan, setiap seribu ekor ayam membutuhkan sekitar 120 kilogram campuran pakan per hari. Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan vitamin dan suplemen tambahan.

Keluhan serupa disampaikan peternak asal Desa Mojotengah, Kecamatan Mojowarno, Eko Murdianto. Menurutnya, kenaikan harga pakan dalam dua pekan terakhir cukup tajam.

“Sebelumnya harga pakan masih sekitar Rp 6.800 sampai Rp 7 ribu per kilogram. Sekarang naik jadi Rp 7.400 sampai Rp 7.800 per kilogram,” kata Eko.

Di saat harga pakan naik, harga telur di tingkat peternak justru turun drastis. Dari sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp 22 ribu hingga Rp 22.500 per kilogram.

“Kenaikan pakan sangat terasa. Di saat yang sama harga telur justru turun drastis, sehingga peternak semakin kesulitan,” ujarnya.

Eko menyebut stok telur di pasaran saat ini cukup melimpah. Namun tingginya ketersediaan barang tidak diikuti kenaikan harga jual.

“Ketersediaan telur banyak, tapi harga malah turun. Ini yang paling memberatkan peternak,” pungkasnya.

Para peternak berharap harga telur bisa kembali stabil agar usaha peternakan ayam petelur tetap bertahan dan tidak banyak peternak yang gulung tikar.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.