KabarBaik.co – Polres Jember telah mengamankan 22 anggota PSHT yang diduga pelaku kasus pengeroyokan kepada anggota Polsek Kaliwates, Senin (22/7) dinihari kemarin. Saat ini total terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan lebih dalam di Mapolres Jember.
Kapolres Jember AKBP Bayu Pratama Gubunagi membenarkan kabar tersebut, pihaknya mengatakan bahwa sudah mengamankan 22 orang terduga pelaku pengroyokan.
“Betul total ada 22 orang, yang dua itu diserahkan oleh pihak PSHT kepada Polres, sementara 20 lainnya tim Satreskrim melakukan penangkapan sendiri,” ujar Bayu saat dikonfirmasi di Mapolres Jember, Selasa (23/7).
Hasil dari proses Lidik sementara, Bayu mengungkap penyebab terjadinya aksi pengeroyokan dan pemukulan, karena ada kesalahpahaman yang dilakukan oleh salah seorang anggota Pamter (Tim Keamanan dari PSHT). Itu juga berdasarkan pengakuan terduga pelaku dan juga saksi dari Polisi yang berada di lokasi.
“Jadi kejadian ini dilakukan spontan, dengan motifnya ada kesalahpahaman di lapangan. Di mana saat itu, ada anggota Pamter (Tim keamanan dari PSHT) yang melakukan pengamanan bersama anggota Polri. Anggota Pamter itu (kemudian) mengamankan diri, (masuk) ke dalam mobil dinas Polsek Kaliwates,” jelasnya.
Setelah itu, massa dari PSHT menganggap ada anggotanya yang diamankan oleh polisi. Jadi anggapan itulah yang menyebabkan terjadinya pengeroyokan kepada anggota bernama Aipda Parmanto Indrajaya.
“Saat itu juga gerombolan ini mengira Pamter itu diamankan oleh polisi. Sehingga polisi jadi sasaran amuk dan (salah satu anggota) jadi sasaran awal. Dari kondisi itulah berkembang menjadi pengeroyokan,” terang Bayu.
Pihaknya juga mengatakan, saat ini sedang melakukan penyelidikan lebih dalam atas tindak dugaaan pengeroyokan dan pemukulan itu, salah satunya mendalami apakah menggunakan alat bantu atau tangan kosong.
“Para pelaku untuk pemeriksaan sementara melakukan pengeroyokan dengan tangan kosong. Namun demikian, di TKP kami menemukan ada batu dan bambu. Hal ini masih kami pastikan apakah bambu dan batu yang berada di sekitar TKP ada noda atau tetesan darah yang digunakan pelaku,” ucapnya.
Bayu juga menegaskan bahwa korban pengeroyokan atau pun pemukulan hanya ada satu korban dari anggota polisi.
“Jadi kita luruskan untuk korban hanya ada satu saja bukan lima, sementara yang lain kami membagi plotting personel dari mulai dari kegiatan utama yaitu di Padepokan PSHT,” jelasnya.
Pihaknya juga mengatakan, penyelidikan sampai saat ini masih berjalan, yang artinya dari jumlah saat ini masih bisa berubah.
“Kita lihat dulu hasil pemeriksaan, pelakunya bisa bertambah dan juga berkurang,” pungkasnya.(*)






