KabarBaik.co – Kisah memilukan datang dari Dusun Semanding, Desa Sumbermulyo, Kabupaten Jombang. Poniti, seorang ibu kepala keluarga, hidup bersama dua anak laki-lakinya di rumah nyaris roboh.
Rumah mereka hanya terdiri dari satu ruangan tanpa sekat, dengan tirai robek sebagai pembatas seadanya. Saat hujan turun, lantai tanah menjadi becek dan licin. Perabotan pun nyaris tak ada.
“Saya cuma ingin rumah ini diperbaiki. Biar anak-anak saya bisa tidur tenang, tidak kehujanan,” tutur Poniti dengan suara lirih saat ditemui di rumahnya, Jumat (20/6).
Yang lebih memprihatinkan, Poniti dan keluarganya belum pernah tersentuh bantuan sosial pemerintah. Program seperti PKH, BPNT, maupun rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) belum pernah mereka rasakan.
Kepala Dusun Semanding Mulyadi, membenarkan kondisi yang dialami keluarga Poniti. Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan laporan ke pihak desa dan kecamatan.
“Kami bersyukur, akhirnya ada perhatian dari Abah Bupati. Ini harapan baru bagi Bu Poniti dan anak-anaknya,” ujarnya.
Respons cepat pun datang. Abah Bupati Jombang langsung mengunjungi rumah Poniti begitu menerima laporan. Kehadiran sang bupati disambut haru oleh Poniti yang tak menyangka akan didatangi langsung oleh pemimpin daerah.
“Terima kasih, Abah Bupati. Saya enggak percaya didatangi langsung sama Abah Bupati. Terima kasih sudah peduli sama orang kecil seperti kami. Semoga Allah membalas kebaikan Abah dan semua yang bantu,” ucap Poniti sambil menahan tangis.
Abah Bupati menegaskan bahwa keselamatan dan kenyamanan warga adalah prioritas utama.
“Tidak boleh ada warga yang tinggal di rumah yang mengancam keselamatannya. Ini soal kemanusiaan, dan pemerintah harus hadir. Terima kasih juga kepada pendamping sosial PKH yang sudah memberikan informasi ini, sehingga Ibu Poniti bisa segera mendapatkan bantuan RTLH,” kata Abah Bupati di lokasi.
Langkah cepat ini mendapat apresiasi dari warga dan tokoh masyarakat. Mereka berharap tindakan ini bukan sekadar respons insidental, tapi menjadi awal dari sistem sosial yang lebih sigap dan empatik terhadap kelompok rentan.
Kisah keluarga Poniti bukan hanya tentang kemiskinan, tapi juga tentang harapan dan perlunya kehadiran nyata pemerintah tak hanya saat seremoni, tapi juga saat air mata rakyat jatuh dalam sunyi.(*)








