KabarBaik.co – Produksi jagung di Jombang sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Data Dinas Pertanian Jombang mencatat total produksi jagung tahun ini mencapai 254.814,18 ton.
Jumlah tersebut turun sekitar 16.800 ton dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 271.619,56 ton. Penurunan produksi ini sejalan dengan menyusutnya luas lahan tanam jagung di sejumlah wilayah sentra pertanian.
Kepala Dinas Pertanian M Rony mengatakan berkurangnya produksi jagung terutama disebabkan oleh peralihan penggunaan lahan. Banyak petani memilih mengganti tanaman jagung dengan padi.
“Produksi memang turun karena luas tanam jagung berkurang. Banyak lahan yang dialihkan untuk tanaman padi,” kata Rony, Rabu (14/1).
Berdasarkan data, luas tanam jagung pada 2025 tercatat hanya 31.288,72 hektare. Angka ini menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 36.119,20 hektare, atau berkurang sekitar 4.830 hektare.
Rony menjelaskan, perubahan pola tanam tersebut tidak terlepas dari faktor iklim. Fenomena kemarau basah membuat ketersediaan air relatif aman, sehingga petani menilai budi daya padi lebih menguntungkan dan berisiko lebih kecil.
“Dengan kondisi cuaca seperti ini, petani melihat padi sebagai pilihan yang lebih menjanjikan dibandingkan jagung,” ujarnya.
Meski mengalami penurunan, jagung tetap menjadi salah satu komoditas strategis di Jombang. Produksi ratusan ribu ton per tahun masih berperan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan serta bahan baku pakan ternak, baik untuk pasar lokal maupun luar daerah.
Menurut Rony, fluktuasi produksi merupakan hal yang wajar dalam sektor pertanian. Berbagai faktor seperti cuaca, pola tanam, hingga pertimbangan ekonomi petani sangat memengaruhi hasil panen setiap tahun.
“Fluktuasi ini hal yang lazim. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari iklim hingga keputusan petani di lapangan,” katanya.
Ke depan, Pemkab Jombang berencana meningkatkan pendampingan kepada petani, termasuk mendorong penerapan pola tanam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Selain itu, pihaknya juga berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat, khususnya melalui Perum Bulog, agar hasil panen jagung petani dapat terserap dengan baik dan harga tetap stabil.
“Kami berharap Bulog bisa ikut membeli hasil panen jagung petani agar harga tetap terjaga dan petani lebih terlindungi,” pungkas Rony. (*)







