Pulang ke Bojonegoro, Menteri PMK Pratikno Soroti Kasus Bunuh Diri dan FOMO

oleh -97 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 22 at 3.07.30 PM
Menteri PMK Pratikno saat berdialog dengan para siswa di SMPN 1 Padangan (Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa peran guru semakin penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fisik, mental, dan karakter yang kuat.

Pesan tersebut disampaikan Pratikno saat menghadiri peresmian gedung sekaligus peringatan HUT ke-61 SMP Negeri 1 Padangan, Bojonegoro, Sabtu (22/8). Pratikno sendiri merupakan alumni sekolah tersebut.

Menurut Pratikno yang merupakan putra kelahiran Desa Dolokgede kecamatan Tambakrejo Bojonegoro ini menilai, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital.

Anak-anak dapat dengan mudah mengakses beragam informasi, meski tidak semuanya sesuai dengan usia maupun kondisi kehidupan mereka.

“Anak-anak harus pintar, tetapi kita juga harus mencetak manusia yang kuat dan tangguh. Fisik penting, tetapi mental juga sangat penting,” ujar Pratikno.

Pratikno secara khusus melihat persoalan kesehatan mental yang kini menjadi perhatian serius. Salah satunya adalah kasus bunuh diri yang, menurut dia, tidak hanya menunjukkan peningkatan jumlah, tetapi juga terjadi pada rentang usia yang semakin luas.

“Kasus yang kami tangani, bunuh diri, mengapa ini menjadi perhatian kita? Karena bukan hanya jumlahnya yang meningkat, tetapi rentang usianya juga semakin lebar,” katanya.

Ia menilai perkembangan media sosial menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama. Anak-anak kini dapat melihat berbagai gambaran kehidupan orang lain melalui media sosial. Kondisi tersebut berpotensi membuat mereka merasa harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Situasi itu dapat memunculkan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Padahal, kemampuan anak dalam menyaring informasi dan memahami dampak dari apa yang mereka lihat di media sosial belum tentu berkembang secara optimal.

Karena itu, Pratikno mendorong orang tua dan sekolah untuk bersama-sama mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital. Ia mengingatkan agar telepon seluler tidak dijadikan pengganti peran orang tua dalam mengasuh anak.

“Jangan HP dijadikan pengganti pengasuh anak. Ketika anak tantrum atau rewel, jangan langsung disodori HP,” tegasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Pratikno menilai posisi guru semakin strategis. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran dan mengejar capaian akademik, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta mendampingi perkembangan mental siswa.

“Guru bukan hanya pengajar akademik. Guru adalah orang tua anak selama mereka berada di sekolah,” ujarnya.

Menurut Pratikno, guru memiliki kesempatan untuk mengamati perkembangan siswa secara lebih dekat. Perubahan sikap, perilaku, hingga kondisi emosional anak dapat diketahui lebih awal apabila guru memberikan perhatian dan pendampingan secara langsung.

Karena itu, ia mengajak para guru untuk terus memberikan keteladanan dan pendampingan kepada siswa. Pendidikan, kata dia, harus mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus memiliki ketangguhan mental dan karakter yang kuat.

“Saya harap Bapak dan Ibu guru harus tetap semangat untuk mendidik generasi yang cerdas sekaligus memiliki ketangguhan mental dan karakter yang kuat,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.