Puncak Bahagia RI di Era Awal Jokowi, 11 Tahun Kemudian Anjlok Turun Kasta

oleh -290 Dilihat
WANITA CANTIK
Ilustrasi

KabarBaik.co, Jakarta- Posisi Indonesia dalam daftar negara paling bahagia di dunia, mesti mendapat atensi serius. Berdasarkan World Happiness Report 2026 yang dirilis bulan ini, Indonesia harus puas berada di peringkat ke-87 dari 147 negara. Posisi ini seakan menjadi ironi jika menengok kembali ke belakang. Tepatnya pada tahun 2015, ketika Indonesia sempat menembus peringkat ke-74 (dari 158 negara).

Pencapaian di tahun 2015 tersebut tercatat sebagai peringkat terbaik yang pernah diraih Indonesia sepanjang sejarah publikasi laporan kebahagiaan global ini.

Saat itu merupakan tahun-tahun awal pemerintahan periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK), Jika dicermati ekspektasi dan optimisme publik terhadap perbaikan ekonomi, infrastruktur, dan pemberantasan korupsi memang sedang berada di titik puncak.

Namun, yang membuat laporan World Happiness tahun 2026 ini sangat menarik adalah adanya sebuah paradoks statistik. Mengapa peringkat Indonesia merosot hingga 13 anak tangga (dari 74 ke 87), padahal jika dibedah secara angka, total skor kebahagiaan warga Indonesia sebenarnya justru mengalami kenaikan?

Skor Naik, Tapi Mengapa Peringkat Turun?

Pada masa kejayaannya di tahun 2015, skor kebahagiaan Indonesia berada di angka 5,399. Sebelas tahun kemudian, pada laporan 2026 ini, skor Indonesia sejatinya merangkak naik menjadi 5,617 (naik 0,218 poin).

Nah, jawabannya terangkum dalam satu kalimat singkat. Negara lain berlari jauh lebih kencang.

Meskipun secara absolut tingkat kepuasan hidup warga Indonesia sedikit membaik—yang banyak ditopang oleh tingginya modal sosial, budaya gotong royong, dan stabilitas makroekonomi—peningkatan tersebut berjalan sangat lambat dibandingkan rata-rata global.

Pelajaran paling telak datang dari negara tetangga seperti Vietnam, yang kini meroket ke peringkat 45 dunia. Ketika Indonesia masih asyik berjalan santai dan bertumpu pada indikator dukungan sosial, di mana warga saling bantu saat krisis, negara-negara berkembang lainnya justru berlomba melakukan reformasi sistemik yang radikal.

Rapor Indonesia di tahun 2026 membongkar dua “penyakit kronis” yang membuat langkah Indonesia terasa berat. Pertama, persepsi korupsi (skor sangat hancur, hanya 0,044). Harapan akan pemerintahan bersih dan transparan, yang sempat menyala terang di awal era Jokowi—belakangan dipersespsi meredup di mata publik. Warga merasa keadilan dan keterbukaan institusi masih jauh dari harapan, sehingga menggerus kebahagiaan komunal secara masif.

Kedua, angka harapan hidup sehat (skor hanya 0,454). Di saat negara lain seperti Vietnam jor-joran berinvestasi pada kualitas fasilitas kesehatan dasar yang merata, Indonesia sepertinya masih tertatih-tatih. Umur yang panjang di Indonesia belum dibarengi dengan jaminan raga dan mental yang sehat di masa tua akibat ketimpangan layanan kesehatan.

Sebuah Peringatan di Garis Akhir

Paradoks laporan ini menjadi teguran keras bagi arah pembangunan nasional. Kenaikan skor kebahagiaan membuktikan bahwa ketangguhan rakyat Indonesia untuk bertahan hidup dan saling menjaga memang patut diacungi jempol.

Namun, di era persaingan global, berjalan di tempat berarti bersedia untuk ditinggalkan. Jika negara tidak segera membenahi institusi yang transparan dan menjamin kualitas kesehatan masyarakatnya secara merata, angka pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi ilusi statistik yang tak mampu mengangkat derajat kebahagiaan bangsa secara nyata di mata dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.