Puncak Kemarau 2026 Nganjuk Dipicu El Nino Kuat dan IOD Positif

oleh -107 Dilihat
Ilustrasi seorang warga melintas di area persawahan yang mulai mengering di Kabupaten Nganjuk.
Ilustrasi seorang warga melintas di area persawahan yang mulai mengering di Kabupaten Nganjuk.

KabarBaik.co, Nganjuk – Puncak musim kemarau di Kabupaten Nganjuk resmi dimulai dengan tingkatan curah hujan sangat rendah di bawah 20 mm per dasarian.

Kondisi atmosfer yang amat kering ini diperparah oleh hadirnya anomali El Nino kuat di Pasifik serta potensi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.

“Perpindahan kolam hangat ke Pasifik Timur menyebabkan Indonesia mengalami defisit uap air pembentuk awan hujan,” kata Ahli Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris, Kamis (20/8).

Kondisi kemarau ini berpotensi semakin kering karena pada bulan September hingga Oktober diprediksi muncul fenomena IOD dari Samudra Hindia Barat Sumatra.

“Namun demikian, peluang hujan lokal berdurasi singkat (1 hingga 1,5 jam) tetap ada jika terjadi gangguan gelombang atmosfer ekuatorial,” ungkap Setiyaris.

Karakteristik angin kencang di Nganjuk terjadi akibat corridor effect atau efek corong. Posisi geografis Nganjuk yang berada di antara Pegunungan Wilis dan Gunung Welirang Arjuno Kelud membuat massa udara dingin Monsun Australia menyempit dan terakselerasi kencang saat menerjang dataran Kota Angin.

“Saat massa udara dingin Monsun Australia masuk melalui celah pegunungan yang luas, angin mengalami penyempitan dimensi ruang,” urainya.

“Akibatnya, kecepatan angin yang keluar di wilayah dataran Nganjuk terakselerasi menjadi jauh lebih kencang layaknya fluida yang ditekan melalui ujung corong kecil,” imbuh Setiyaris.

Selain terpaan angin kencang, masyarakat Nganjuk mulai merasakan fenomena bediding suhu terik berlebih pada siang hari yang mendadak anjlok menjadi sangat dingin menjelang dini hari.

Fenomena tahunan ini timbul imbas masuknya udara kering dari daratan Australia yang sedang mengalami puncak musim dingin.

“Berdasarkan koordinasi bersama BPBD Kabupaten Nganjuk, sejumlah wilayah diidentifikasi masuk dalam peta rawan krisis air bersih dan kekeringan lahan,” terang Sutomo, Kalaksa BPBD Nganjuk.

Titik rawan tersebut meliputi Kecamatan Ngluyu, Lengkong, Gondang, serta beberapa kantong desa di Kecamatan Pace dan Loceret yang rutin membutuhkan pasokan dropping air bersih.

Di tengah ancaman krisis air bersih dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca kering ini justru membawa sisi positif bagi sektor pertanian setempat.

Tanaman bawang merah (berambang) yang menjadi komoditas unggulan Nganjuk justru mendapatkan limpahan sinar matahari untuk meningkatkan kualitas panen.

“Bagi komoditas bawang merah (berambang), intensitas sinar matahari tinggi dan cuaca terik justru meningkatkan kualitas umbi panen menjadi sangat baik, asalkan pasokan air irigasi dasarnya tetap tercukupi secara presisi dan tidak kekurangan,” pungkas Setiyaris.

Fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan mengakibatkan mundurnya awal musim penghujan. BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman kesehatan seperti ISPA dengan selalu menggunakan masker, menjaga hidrasi tubuh, serta tidak membakar sampah secara sembarangan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.