KabarBaik.co, Sidoarjo – Upaya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menekan penyebaran HIV/AIDS masih menghadapi tantangan besar. Selain terus menemukan kasus baru, petugas kesehatan juga dihadapkan pada ribuan Orang dengan HIV (ODHIV) yang tidak lagi menjalani pengobatan secara rutin.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dari total 7.129 ODHIV yang tercatat, sekitar 58 persen atau 4.135 orang masih rutin menjalani terapi. Sementara 42 persen lainnya, atau sebanyak 2.994 orang, tercatat tidak lagi menjalani pengobatan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Hinu Tri Sulistijorini Ririn, mengatakan sebagian ODHIV yang tidak berobat sulit dilacak karena sudah kehilangan kontak dengan petugas kesehatan.
“ODHIV tidak pengobatan sebanyak 42 persen. Mereka ada di data kami lengkap, by name by address. Dari jumlah itu, sebagian ada yang tidak diketahui keberadaannya dikarenakan alamat dan nomor HP yang diberikan adalah palsu,” ujarnya, Sabtu (4/7).
Kondisi serupa juga ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Sidoarjo Kota. Dari 548 ODHIV yang tercatat, terdapat 10 orang yang sudah tidak lagi melakukan kontrol maupun melanjutkan pengobatan setelah kunjungan awal.
Kepala Puskesmas Sidoarjo Kota, dr. Erwin Berthaningrum, menjelaskan sebagian pasien menghilang setelah beberapa kali menjalani pemeriksaan. Ia juga menyebut kelompok LSL (Lelaki Suka Lelaki) masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak di wilayahnya.
“ODHIV lost contact ada 10 orang. Mereka menghilang dalam artian, pertama dan kedua kontrol, setelah itu tidak kembali. Kelompok LSL menempati rangking tertinggi di Sidoarjo Kota ada 106 ODHIV,” ungkap Erwin.
Meski berbagai upaya pendekatan telah dilakukan, tidak semua ODHIV bersedia kembali menjalani terapi. Petugas kesehatan mengaku hanya bisa memberikan edukasi tanpa dapat memaksa pasien untuk melanjutkan pengobatan.
Untuk menekan penularan, Dinas Kesehatan Sidoarjo terus menggencarkan skrining HIV di sejumlah lokasi yang masuk kategori populasi berisiko. Pemeriksaan dilakukan secara proaktif di berbagai titik yang diduga menjadi lokasi aktivitas seksual berisiko guna menemukan kasus sejak dini dan menghubungkan pasien dengan layanan pengobatan.(*)






