Rumah Terhimpit Jembatan, Warga Bendorejo Trenggalek Desak Kompensasi dari Pemerintah

oleh -132 Dilihat
2266dd1d 89a4 4bdf ac6a 58d255a98650
Warga setempat yang terdampak pembangunan Jembatan Nglembu. (Foto: Herlambang)

KabarBaik.co – Polemik terkait pembangunan Jembatan Nglembu di Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek terus berlanjut. Warga yang terdampak belum menerima kompensasi yang dijanjikan, sementara aktivitas ekonomi mereka terhambat selama proses pembangunan.

Jembatan Nglembu, yang lebih dikenal dengan sebutan jembatan plengkung karena bentuk kerangka lamanya yang melengkung, mulai dibongkar dan dibangun ulang sejak tahun 2023. Setidaknya enam kepala keluarga (KK) di sekitar lokasi pembangunan terkena dampaknya.

Wardoyo, yang akrab disapa Yoyok, salah satu warga terdampak, mengungkapkan banyak dampak negatif yang dirasakan selama pembangunan. Ia menyebutkan adanya polusi udara dari debu dan getaran alat berat, serta perekonomian warga yang lumpuh akibat akses jalan yang ditutup total. “Rumah kami kini terimpit oleh tembok jembatan yang kokoh, dan ini menjadi masalah permanen bagi kami,” ujarnya, Minggu (11/8).

Warga menuntut kompensasi kepada pemerintah sebesar Rp 20 juta per kepala keluarga yang terdampak. Namun, hingga saat ini kompensasi tersebut belum direalisasikan oleh pihak terkait. “Bagi pemerintah, mungkin Rp 20 juta tidak banyak. Tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” keluh Yoyok.

Sebelumnya, warga sempat akan diberi dana kompensasi sebesar Rp 1,5 juta, namun mereka menolak karena jumlah tersebut dianggap tidak sesuai dengan tuntutan mereka.

Terpantau di lokasi bahwa pembangunan Jembatan Nglembu terus berjalan dengan kerangka jembatan baru yang sudah terpasang dan menghubungkan sisi utara dan selatan. Sejumlah rambu peringatan dan pengalihan arus lalu lintas juga telah dipasang.

Namun, pemandangan yang memprihatinkan terlihat ketika rumah-rumah warga terhimpit oleh tembok jembatan, membuat jalan di depan rumah mereka kini hanya cukup untuk dilalui oleh kendaraan roda dua, dan itu pun harus bergantian.

Amin Tohari, warga lainnya, mengeluhkan dampak pembangunan yang belum selesai tersebut terhadap usahanya. Toko burung miliknya mengalami penurunan omzet drastis. “Dulu bisa dapat Rp 50 ribu sehari dari jual burung, dan Rp 100 ribu dari warung kopi. Sekarang semuanya sepi,” ungkap Amin.

Amin berharap agar akses jalan di depan rumahnya bisa segera dibuka kembali sehingga usahanya bisa kembali normal. “Semoga akses ini segera bisa dilalui lagi dan usaha kami bisa berkembang kembali,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Herlambang
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.