Perajin Tahu di Banyuwangi Keluhkan Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

oleh -118 Dilihat
IMG 20260528 WA0012
Salah satu perajin tahu di Kelurahan Penatigan, Kecamatan Banyuwangi. (Foto: Mohammad Ikhwan)

KabarBaik.co, Banyuwangi – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak pada naiknya harga kedelai impor. Kondisi tersebut dikeluhkan para perajin tahu di Banyuwangi karena keuntungan usaha semakin menipis.

Salah satu perajin tahu di Kelurahan Penatigan, Kecamatan Banyuwangi, Nurul Hakim mengatakan, harga kedelai dalam lima bulan terakhir naik sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Dari sebelumnya Rp 8.500 per kilogram pada Desember 2025, kini menjadi Rp 10.500 per kilogram.

“Dampaknya besar sekali. Harga kedelai terus naik, sementara harga jual tahu sulit dinaikkan,” kata Hakim, Rabu (27/5).

Hakim mengaku terpaksa menyiasati kondisi tersebut dengan memperkecil ukuran tahu agar tetap bisa bertahan. Saat ini ia menjual tahu putih seharga Rp 4 ribu per 10 biji dan tahu goreng Rp 5.500 per 10 biji.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Sebab selain kedelai, biaya operasional lain seperti listrik juga ikut meningkat. “Biasanya listrik sebulan Rp 1,2 juta, sekarang jadi Rp 1,7 juta,” ujarnya.

Usaha tahu milik Hakim telah berjalan sejak 1979 dan kini menjadi satu-satunya yang masih bertahan di lingkungannya. Dalam sehari, dapurnya mampu memproduksi sekitar 5.500 biji tahu dengan bahan baku sekitar 1,25 kuintal kedelai.

Hakim mengatakan sebagian besar kedelai yang digunakan berasal dari impor, terutama Amerika Serikat. Meski pernah menggunakan kedelai lokal, harganya dinilai tetap mengikuti pasar impor. “Kalau rasa sebenarnya kedelai lokal lebih gurih, tapi harganya tetap ikut naik,” katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.