KabarBaik.co, Batu – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh kisaran Rp 18.000 mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha oleh-oleh di Kota Batu. Tak hanya memicu kenaikan harga produk, kondisi ini juga berdampak pada perubahan pola belanja wisatawan.
Ini terjadi pada Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan di Kecamatan Junrejo yang menjadi salah satu usaha yang merasakan langsung imbas gejolak ekonomi global tersebut. Manajemen mencatat rata-rata nilai belanja konsumen atau Average Basket Value mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Supervisor Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan, Tinton Suprapto, mengatakan wisatawan kini cenderung membeli lebih sedikit barang dibanding sebelumnya. Bahkan, penggunaan kemasan kardus mulai berkurang dan lebih banyak konsumen memilih kantong plastik.
“Average Basket Value atau rata-rata nilai per keranjang belanjanya menurun. Artinya, nominal uang yang dikeluarkan atau jumlah barang yang dibeli konsumen dalam satu kali transaksi ikut berkurang,” ujar Tinton, Minggu (14/6).
Menurut Tinton, penurunan daya beli tersebut tidak lepas dari kenaikan harga sejumlah produk oleh-oleh yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Hingga saat ini, lebih dari 40 persen item produk yang dijual di gerainya telah mengalami penyesuaian harga.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah para supplier meminta penyesuaian harga akibat meningkatnya biaya produksi. Sebab, sistem kerja sama yang digunakan adalah konsinyasi atau titip jual, sehingga toko harus mengikuti harga yang ditetapkan produsen.
“Supplier kami meminta penyesuaian harga karena modal produksi mereka meningkat. Maka harga eceran di toko otomatis ikut merangkak naik,” ungkapnya.
Tinton menjelaskan lonjakan biaya produksi tidak sepenuhnya berasal dari bahan baku utama, melainkan dari naiknya harga material kemasan seperti kardus dan plastik yang masih bergantung pada komponen impor.
Akibatnya, sejumlah produk unggulan mengalami kenaikan harga. Keripik tempe misalnya, naik dari Rp 13 ribu menjadi Rp 14 ribu per kemasan. Kemudian aneka sambal lauk kemasan 200 gram meningkat dari Rp 33 ribu menjadi Rp 40 ribu. Sementara keripik buah kemasan toples premium naik dari Rp 76 ribu menjadi Rp 80 ribu.
Secara keseluruhan, kenaikan harga produk bervariasi mulai Rp 1.000 hingga beberapa ribu rupiah per item. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha oleh-oleh yang sangat bergantung pada kunjungan wisatawan.
Meski demikian, manajemen tetap berharap situasi ekonomi global dan nilai tukar rupiah dapat segera membaik. Dengan stabilnya kurs, biaya produksi supplier diharapkan turun sehingga harga pokok penjualan (HPP) kembali normal.
“Kalau harga HPP yang kami dapat dari supplier bisa murah lagi, kami tinggal menyesuaikan juga agar lebih terjangkau konsumen kami,” tegas Tinton. (*)






