Saat 600 Warga Sahur Keliling Bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Jombang

oleh -30 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 01 at 3.04.57 PM
Sahur Keliling 2026 bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Jombang (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Dini hari itu, udara di Desa Kwaron, Diwek, Jombang, masih terasa sejuk. Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.00 WIB ketika ratusan orang mulai memadati halaman Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak.

Mereka datang dari beragam latar belakang. Ada pejabat daerah, tokoh lintas agama, santri, hingga kelompok marjinal seperti tukang becak, pengamen, buruh, pemulung, dan tukang parkir. Sekitar 600 orang berkumpul dalam satu meja sahur bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam agenda Sahur Keliling 2026 yang digelar Komunitas GUSDURian Jombang, Minggu (1/3) dini hari.

Mengusung tema ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’, kegiatan ini tak sekadar menjadi ajang makan sahur bersama. Di tengah sorotan terhadap dinamika demokrasi dan berbagai bencana yang melanda negeri, forum tersebut menjadi ruang refleksi kebangsaan sekaligus penguatan solidaritas lintas iman.

Ketua Panitia Achmad Fathul Iman menegaskan bahwa Sahur Keliling bukan agenda seremonial Ramadan semata. Ia menyebut ruang-ruang kebersamaan seperti ini justru penting ketika situasi kebangsaan dinilai membutuhkan penguatan nilai sosial.

“Ketika demokrasi terasa goyah, ruang-ruang kebersamaan seperti inilah yang menguatkan fondasinya. Demokrasi bukan hanya soal politik, tetapi juga tentang keadilan sosial, keberpihakan pada yang lemah, serta keberanian menjaga suara nurani,” ujarnya.

Suasana sahur berlangsung hangat dan egaliter. Tidak ada sekat sosial. Para santri duduk berdampingan dengan pemulung dan buruh. Tokoh agama lintas keyakinan pun ikut menyatu dalam dialog yang berlangsung hingga menjelang waktu Subuh.

Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang Nyai Hj. Rika Fauziyah Andarini mengaku bersyukur pesantrennya menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia berharap momentum sahur bersama mampu mempererat ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah.

“Semoga kebersamaan ini semakin memperkuat persaudaraan dan meneladani perjuangan Gus Dur serta Ibu Nyai Shinta dalam merawat toleransi,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Shinta Nuriyah mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang saling menguatkan. Menurut dia, Ramadan seharusnya menjadi ruang untuk merangkul semua kalangan tanpa memandang latar belakang agama, suku, budaya, maupun status sosial.

“Indonesia ini beragam, dan justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya,” ungkapnya.

Ia juga mengajak peserta memaknai puasa sebagai ibadah yang membawa perubahan mendasar dalam diri, bukan sekadar rutinitas tahunan.

“Puasa yang kita lakukan harus menjadi puasa yang revolusioner. Puasa yang mengubah perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik, hingga akhirnya menuntun kita pada ketakwaan,” tegasnya.

Selain tausiyah, Shinta memandu dialog interaktif tentang hakikat puasa. Sejumlah peserta berbagi pandangan mengenai makna kesabaran dan keikhlasan, yang kemudian diperkaya dengan penjelasan tentang dimensi spiritual sekaligus sosial dari ibadah tersebut.

Rangkaian acara diawali dengan penampilan komunitas GUSDURian Jombang dan perwakilan lintas agama sebagai simbol harmoni keberagaman, termasuk pertunjukan barongsai dan banjari.

Acara inti dibuka dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Subhanul Wathon”, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta sambutan panitia dan tuan rumah.

Bagi para peserta, sahur dini hari itu bukan sekadar mengisi perut sebelum berpuasa. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah bencana dan dinamika demokrasi, empati dan persaudaraan tetap menjadi fondasi utama dalam merawat Indonesia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.