Siswa Reguler, Difabel, dan Homeschooling Bersatu Sampaikan Aspirasi di Rembuk Anak Banyuwangi

oleh -40 Dilihat
IMG 20250721 WA0019
Siswa saat menyampaikan pendapat dalam forum Rembuk Anak yang berlangsung di pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)

KabarBaik.co – Puluhan siswa SMP dan SMA mengikuti Rembuk Anak yang diselenggarakan Pemkab Banyuwangi di pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Senin (21/7).

Menariknya, tidak hanya siswa di sekolah reguler, siswa berkebutuhan khusus dan homeschooling juga diberi kesempatan menyampaikan aspirasi dalam forum tersebut.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjaring aspirasi anak-anak yang akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah. Dalam forum tersebut, para peserta membahas enam isu utama yang berkaitan langsung dengan kehidupan remaja.

Diantaranya cyberbullying, kekerasan terhadap anak, perundungan di sekolah, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan hubungan dalam keluarga.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut, Rembuk Anak adalah ruang penting bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan, ide, dan keresahan mereka.

“Terima kasih sudah berpartisipasi membangun Banyuwangi. Kalian tidak hanya memberi saran, tapi juga punya tanggung jawab saling mengingatkan sesama teman sebaya,” kata Ipuk.

Menurut Ipuk, masukan dari anak-anak akan menjadi bagian dari penyusunan kebijakan yang ramah anak di Banyuwangi. Ia berharap para peserta bisa menjadi penggerak perubahan, terutama di lingkungannya masing-masing.

“Kalau dari 50 anak ini bergerak, Insya Allah anak-anak Banyuwangi di luar sana akan ikut semangat, punya tekad, dan mimpi tinggi untuk berpartisipasi membangun daerahnya,” imbuhnya.

Rembuk tersebut dimanfaatkan oleh para siswa untuk menyampaikan berbagai usulan. Salah satunya yang disampaikan Jeanny Annisa Risqiah. Ia dan timnya mengusulkan pembentukan komunitas anti-cyberbullying, aplikasi edukasi media sosial, serta wadah aman untuk para korban.

“Korban biasanya ingin identitasnya dilindungi, jadi penting ada komunitas yang mendampingi mereka,” kata Jeanny.

Siswi homeschooling PKBM Khodijah di Songgon ini mengaku tertarik ikut karena ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan remaja lainnya. “Saya ikut karena penasaran, ternyata di sini seru. Saya bisa bersosialisasi dan bertukar gagasan,” ungkapnya.

Selain itu, juga ada Ilham, siswa SMA Luar Biasa (LB) Banyuwangi, mengusulkan agar ruang-ruang publik di Banyuwangi diisi informasi dalam huruf braille untuk memudahkan akses anak-anak difabel.

“Kalau semua tempat ada informasi pakai braille, kami bisa tahu tentang bangunan-bangunan dan fasilitas di Banyuwangi,” kata siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan ini.

Usulan juga datang dari Kensi Permata Hati, siswa SMAN 1 Wongsorejo. Kensi meminta pencegahan kasus pelecehan seksual, dan kekerasan terhadap anak lebih dimasifkan lagi.

“Saya usul kegiatan sosialisasi semacam ini datang ke sekolah-sekolah,” ujarnya.

Kensi bercerita jika ia sudah ditinggal ayahnya. Meski sehari-hari membantu ibunya berjualan rujak, ia tetap punya cita-cita besar menjadi pramugari kereta api.

“Acara ini menyenangkan dan menginspirasi. Saya tergerak karena cerita soal kekerasan anak,” sambungnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.