Sudah 40 Tahun Bertahan, Kisah Kakek di Sidoarjo Menjaga Rasa Petis Kupang Legendaris Warisan Keluarga

oleh -137 Dilihat
Suparlan saat membungkus petis kupang produksinya. (Achmad Adi Nurcahya)
Suparlan saat membungkus petis kupang produksinya. (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Petis telah lama menjadi salah satu kuliner khas sekaligus produk andalan warga Sidoarjo. Bumbu tradisional ini memiliki ciri khas yang kuat, mulai dari aroma menggugah selera hingga cita rasa legit dan gurih yang cocok dijadikan sambal maupun pelengkap aneka hidangan.

Di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo kepulan asap dari tungku pengolahan petis masih terus mengepul hampir setiap hari. Dari tempat sederhana itulah Suparlan, 64, menjaga warisan keluarga yang sudah bertahan lebih dari empat dekade.

Suparlan menjelaskan usaha petis yang dijalaninya saat ini merupakan usaha turun-temurun dari keluarganya. Menurutnya, usaha tersebut sudah dirintis sejak zaman orang tuanya dan tetap dipertahankan hingga sekarang karena menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus bagian dari kuliner khas Sidoarjo.

“Sudah lama sekali, bahkan sebelum saya usaha ini sudah ada. Dulu yang merintis ibu saya, sekarang diteruskan sampai anak cucu,” ujar Suparlan di tempatnya Minggu (24/5).

Bagi masyarakat Sidoarjo, petis bukan sekadar pelengkap makanan. Bumbu khas berbahan dasar kaldu kupang itu sudah menjadi bagian dari identitas kuliner daerah, mulai untuk rujak cingur, lontong kupang hingga sambal kerupuk yang akrab di lidah masyarakat Jawa Timur.

“Dulu jualnya masih keliling pasar sedikit-sedikit. Kadang habis, kadang dibawa pulang lagi. Tapi pelanggan lama-lama datang sendiri karena rasanya dipertahankan,” kata Suparlan.

Kini rumah produksi milik Suparlan mampu menghasilkan sekitar 25 kilogram petis setiap hari. Meski dijual dengan harga terjangkau, Suparlan tetap mampu mempertahankan usahanya dan mempekerjakan empat orang karyawan yang membantu proses produksi mulai dari memasak hingga pengemasan.

“Kalau luar pulau biasanya kirim lewat paket ke Kalimantan sama Jakarta. Sekarang penjualannya juga dibantu anak lewat WhatsApp,” pungkasnya sambil tersenyum.

Meski harga bahan pendukung seperti plastik kemasan terus naik, Suparlan memilih mempertahankan harga jual agar tetap ramah di kantong pelanggan. Petis biasa dijual Rp2.500 per bungkus, sedangkan petis premium untuk kupang lontong dan rujak dijual Rp5.000 per kemasan setengah kilogram.

Konsistensi menjaga kualitas dan rasa itu membuat petis Balongdowo kini tidak hanya dikenal di wilayah Sidoarjo dan Surabaya, tetapi juga merambah Tulungagung, Kediri hingga Pasuruan.

Di tangan Suparlan, petis bukan sekadar dagangan rumahan, melainkan cerita tentang ketekunan menjaga warisan kuliner khas daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.