KabarBaik.co, Jakarta- Malam itu, di bawah sorot lampu Ahmadabad yang benderang, aroma sejarah tercium sangat pekat. Papan skor raksasa di tepi lapangan tak lagi sekadar menampilkan angka. Tapi, detak jantung jutaan pasang mata: 23-24 di set ketiga. Indonesia berada tepat satu jengkal di depan takhta juara.
Raihan Rizky Attorif, sang pemilik nomor punggung 13, masih bergeming dalam ketenangan yang magis. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Mata tajamnya mengunci pergerakan lawan.
Begitu bola servis dari kubu Korea Selatan meluncur deras bagai peluru, Raihan bergerak secepat kilat. Dengan akurasi sempurna, tangannya menyambut dentuman bola tersebut, menjinakkannya, lalu mengalirkannya tepat ke pelukan sang setter, Alfin Daniel.
Di sinilah simfoni serangan dimulai.
Alfin dengan cerdik melambungkan bola tinggi ke sisi kiri lapangan. Sejurus kemudian, Putra Bagus melompat tinggi, melakukan gerakan tipuan seolah hendak menggebuk bola. Dua blocker bertubuh jangkung dari Korea melompat sekuat tenaga, mengira serangan akan datang dari depan net. Mereka terkecoh total.
Dari lini kedua, Rama Faza datang memotong kabut pertahanan lawan. Pemain bernomor 12 itu melompat begitu tinggi, mengudara seolah menantang gravitasi, membusungkan dada, lalu… Jedug!
Tangan kanannya menghantam bola dengan kecepatan penuh. Bola melesat bak peluru, melewati celah block yang terlambat, lalu menghunjam super keras langsung ke jantung pertahanan Korea. Sang libero Korea yang mencoba melakukan dig penyelamatan, terkapar tak berdaya menahan laju bola yang terlampau bertenaga. Bola membentur lantai, poin berubah: 23-25!
Seketika itu juga, semesta laga seperti meledak!
Gema teriakan histeris menyatu membakar udara. Rama Faza langsung berbalik dengan tangan mengepal ke atas, sementara seluruh pemain cadangan dan ofisial Merah Putih berhamburan dari tepi lapangan bak air bah yang lepas dari bendungan.
Di tengah hiruk-pikuk euforia yang begitu liar, Rama Faza, Raihan, dan sejumlah penggawa Garuda seketika menjatuhkan diri, bersujud syukur, menempelkan kening mereka ke lantai lapangan. Tak peduli lantai itu bekas tapak-tapak sepatu mereka.
Momen haru kian memuncak saat salah seorang ofisial berlari membentangkan bendera Merah Putih di tengah lingkaran pelukan para pemain yang sarat keharuan. Mereka saling dekap, melompat bersama, merayakan air mata yang menjelma menjadi emas.
Skor 0-3 (32-34, 16-25, 23-25) terkunci. Untuk kali pertama dalam sejarah panjang bola voli tanah air, Indonesia resmi berdiri di podium tertinggi sebagai juara Asia.
Video detik-detik terakhir kemenangan dan ledakan kegembiraan yang viral itu wajar. Memantul ke segenap penjuru tanah air. Betapa tidak, di turnamen bergengsi level Asia ini, Farhan Halim dan kawan-kawan terbilang di ”Pool Neraka”. Mereka harus berhadapan dengan raksasa Qatar, Korea, Oman, dan rival bebuyutan Asia Tenggara Thailand.
Seperti sebuah tarian kemustahilan di awal, namun buah peluh dan kerja keras mahkota itu pun terengkuh spektakuler. Menjawab keraguan. Mencatatkan tinta emas yang tak bakal terhapus dalam jejak sejarah olahraga.
Di sisi lain, kekalahan telak timnas voli putra Korea Selatan 0-3 dari Indonesia di final AVC Men’s Cup 2026 itu pun meninggalkan luka mendalam. Makin memperdalam duka olahraga negeri Ginseng. Media Korea menyebut hasil ini sebagai “kegagalan di ambang juara” dan “terkapar dengan tim peringkat 48”.
Selain itu, masyarakat olahraga Korea kini juga tengah merasakan duka beruntun setelah timnas sepak bola juga gagal melaju dari babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Dalam laporan Senin (29/6), berbagai media besar Korea menyoroti penampilan tim asuhan Isanaye Ramirez yang kurang tajam. Set pertama ketat, tapi set selanjutnya praktis dikuasai Indonesia. “Harapan juara pupus. Tim peringkat 24 dunia kalah telak dari peringkat 48,” tulis Star News Korea. Ada juga yang menulis ”Korea gagal merebut gelar di final pertama mereka”.
Kegagalan voli ini semakin menyakitkan karena datang tak lama setelah timnas sepak bola Korea juga tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Media Korea menyebut kedua kekalahan tersebut sebagai “duka ganda” yang memukul masyarakat olahraga.
Banyak netizen dan penggemar olahraga di media sosial Korea menyatakan kekecewaan mendalam. “Dua tim nasional besar kalah di saat krusial. Saatnya evaluasi total,” tulis salah satu komentar yang viral. Beberapa media juga mengaitkan kedua kegagalan ini dengan perlunya reformasi di cabang olahraga beregu.
Meski kecewa, sebagian analis setempat mengakui permainan kompak Indonesia yang mampu membalas dendam atas kekalahan di fase grup. Bagi Korea, hasil runner-up voli dan kegagalan sepak bola menambah tekanan bagi federasi untuk memperbaiki performa tim nasional di berbagai event-event besar mendatang. (*)






