KabarBaik.co, Malang – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, optimistis Indonesia mampu mewujudkan swasembada daging dalam kurun waktu tiga tahun. Keyakinan tersebut didasari besarnya potensi yang dimiliki Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, yang selama ini menjadi salah satu pusat pengembangan genetika ternak terbesar di Indonesia.
Optimisme itu disampaikan Khofifah saat meninjau BBIB Singosari, Minggu (28/6). Menurutnya, keberadaan balai milik Kementerian Pertanian tersebut merupakan aset strategis nasional yang berperan penting dalam meningkatkan populasi sekaligus kualitas genetik ternak melalui teknologi inseminasi buatan.
“Kalau komitmennya kuat dan seluruh daerah memanfaatkan teknologi yang dimiliki BBIB Singosari, saya optimistis dalam tiga tahun Indonesia bisa mencapai swasembada daging,” ujar Khofifah. Ia menilai, selain meningkatkan kualitas bibit, diperlukan sinergi antardaerah, optimalisasi program inseminasi buatan, serta pendampingan berkelanjutan kepada para peternak agar target tersebut dapat tercapai.
Dalam kunjungannya, Khofifah melihat langsung berbagai pejantan unggul yang dikembangkan BBIB Singosari, mulai dari Belgian Blue, Wagyu, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Peranakan Ongole hingga Friesian Holstein. Perhatian khusus diberikan pada sapi Belgian Blue yang dikenal memiliki pertumbuhan otot sangat baik.
Khofifah mengungkapkan, dirinya pertama kali mengenal jenis sapi tersebut saat diperkenalkan oleh Duta Besar Belgia pada 2018. Kini, pengembangannya melalui inseminasi buatan telah dilakukan di sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
Selain itu, BBIB Singosari juga telah berhasil memproduksi semen beku sapi Wagyu. Menurut Khofifah, peluang pengembangan wagyu di Indonesia cukup besar karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, kualitas daging premium hanya dapat dihasilkan apabila didukung dengan pola pemeliharaan yang tepat.
“Harga daging Wagyu di restoran maupun hotel berbintang masih berada di atas Rp1 juta per kilogram. Karena itu perlakuannya juga harus khusus seperti yang diterapkan di Jepang. BBIB Singosari sudah memulai pengembangannya sejak sekitar lima tahun lalu,” terangnya.
Ia berharap BBIB Singosari tidak hanya menyediakan bibit unggul, tetapi juga terus mendampingi peternak agar mampu menerapkan sistem pemeliharaan yang sesuai sehingga menghasilkan kualitas daging terbaik.
Sementara itu, Kepala BBIB Singosari Akbar menjelaskan, lembaganya saat ini mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan semen beku nasional. Hingga semester pertama 2026, produksi semen beku telah mencapai 895.559 dosis dengan total stok sekitar 4,7 juta dosis.
Menurutnya, stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan program inseminasi buatan nasional hingga tiga tahun ke depan. “Alhamdulillah, stok sekitar 4,7 juta dosis siap didistribusikan kapan pun dibutuhkan, baik untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun permintaan dari negara lain,” ujar Akbar.
Saat ini BBIB Singosari memiliki 192 pejantan unggul dari berbagai rumpun ternak, di antaranya Belgian Blue, Wagyu, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Peranakan Ongole, Friesian Holstein, serta kambing dan domba unggul.
Tak hanya melayani kebutuhan dalam negeri, BBIB Singosari juga telah mengekspor lebih dari 35 ribu dosis semen beku ke 11 negara, yakni Malaysia, Timor Leste, Kamboja, Nigeria, Afghanistan, Madagaskar, Myanmar, Tanzania, Zimbabwe, Ethiopia, dan Kyrgyzstan.
Akbar menambahkan, kerja sama antara BBIB Singosari dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus diperkuat untuk mendukung target lebih dari satu juta akseptor sapi yang akan mengikuti program inseminasi buatan di Jawa Timur sepanjang tahun 2026.
Dengan kapasitas produksi yang besar, dukungan teknologi reproduksi modern, serta jaringan distribusi hingga mancanegara, BBIB Singosari dinilai menjadi salah satu ujung tombak pemerintah dalam mempercepat peningkatan populasi dan kualitas ternak nasional menuju target swasembada daging. (*)






