Tegaskan Tetap Maju Calon Ketum PBNU, Gus Yahya: Niatku Ora Keliru

oleh -122 Dilihat
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menghadiri Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang. (teguh)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menghadiri Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang. (teguh)

KabarBaik.co, Jombang – Petahana Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tetap optimistis menghadapi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Ia memastikan tetap maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.

Gus Yahya menyampaikan hal itu seusai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU.

Saat ditanya alasannya tetap maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU, Gus Yahya menjawab singkat.

“Allahu Robbuna. Niatku ora keliru,” tuturnya.

Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan khidmah kepada NU.

Gus Yahya juga menanggapi isu Presiden Prabowo tidak menghendaki dirinya kembali menjadi Ketua Umum PBNU. Ia menilai tidak ada alasan rasional bagi Prabowo untuk mengintervensi proses internal NU.

“Informasi tidak masuk akal. Presiden Prabowo tidak dalam posisi seperti Presiden Soeharto, lingkungan politik juga tidak sama,” katanya.

Ia menilai intervensi terhadap NU justru dapat membahayakan posisi politik Prabowo.

“Mengintervensi NU akan sangat membahayakan posisi politik Pak Prabowo,” ujarnya.

Gus Yahya juga membandingkan relasinya dengan Presiden Prabowo dengan hubungan Gus Dur dan Presiden Soeharto.

“Posisi saya terhadap Pak Prabowo juga tidak sama dengan posisi Gus Dur terhadap Presiden Soeharto. Saya kooperatif, bahkan supportif,” terangnya.

Gus Yahya menyebut mendapat informasi adanya pihak dari lingkungan pemerintahan yang mengumpulkan pengurus NU dari sejumlah daerah dan meminta dukungan agar tidak memilih dirinya. Ia juga menyebut adanya dugaan pemberian uang.

Namun, Gus Yahya menegaskan tindakan tersebut tidak otomatis mewakili sikap Presiden Prabowo.

“Kalau ada anak buah Prabowo bermanuver mencatut nama Prabowo, semestinya Pak Prabowo menegur, bila perlu memberi sanksi,” tegasnya.

“Mereka mengorbankan Prabowo untuk agenda mereka sendiri,” imbuh Gus Yahya.

Ia berharap jika benar terjadi pencatutan nama Presiden, tindakan korektif dilakukan secara terbuka.

Terkait isu politik uang dalam Muktamar, Gus Yahya mengaku tetap percaya terhadap integritas PWNU dan PCNU.

“PW dan PC adalah kader-kader. Bukan pedagang, apalagi maling,” ucapnya.

Ia yakin pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang memiliki nurani serta kesetiaan terhadap organisasi.

“Mereka punya nurani dan kesetiaan terhadap organisasi. Mereka akan melindungi komitmen moral mereka dari ancaman apa pun, apalagi sekadar uang,” katanya.

Saat ditanya apakah tetap yakin PWNU dan PCNU akan menentukan pilihan berdasarkan kepentingan organisasi, Gus Yahya menjawab tegas.

“Ya. Haqqul yaqin,” ucapnya.

Gus Yahya juga memilih tidak mencampuri aktivitas sejumlah tokoh menjelang Muktamar.

“Buat apa? Tanggung jawab masing-masing, hisab masing-masing,” tegasnya.

Ia menilai setiap orang harus bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan masing-masing.

Gus Yahya juga menjelaskan kaidah fikih yang pernah disampaikannya, yakni man ista’jala syaian qabla awanihi ‘uqiba bihirmanihi.

Kaidah tersebut bermakna: seseorang yang tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum waktunya dapat berujung kehilangan atas sesuatu yang ingin diraih.

Saat ditanya kaitannya dengan dinamika Muktamar, Gus Yahya menjawab santai.

“Itu konsumsi kiai. Yang bukan kiai tidak wajib paham,” katanya.

Mengenai hubungan dengan Rais Aam PBNU dan jajaran Syuriyah setelah dinamika internal organisasi, Gus Yahya memastikan proses islah telah selesai.

“Tuntas. Buktinya sepakat muktamar,” katanya.

Menurutnya, kesepakatan penyelenggaraan Muktamar menunjukkan mekanisme organisasi telah berjalan kembali.

Menghadapi Muktamar Ke-35 NU, Gus Yahya mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga niat dan disiplin organisasi.

“Tata niat yang benar dan disiplin, jangan sampai bertindak menciderai martabat NU,” pesannya.

Ia meminta seluruh pihak mengutamakan kepentingan jam’iyah dan menjaga kehormatan NU.

Gus Yahya juga mengingatkan agar aktivitas individu di sekitar kekuasaan tidak langsung dianggap sebagai sikap resmi Presiden.

Menurutnya, jika ada pihak yang mencatut nama Presiden untuk memengaruhi pilihan muktamirin, pihak tersebut harus bertanggung jawab atas tindakannya.

Muktamar ke-35 NU pun diharapkan menjadi momentum untuk menjaga persaudaraan, disiplin organisasi, serta martabat Nahdlatul Ulama.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.