KabarBaik.co, Surabaya– DPC PKB Kota Surabaya menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) sebagai momentum penguatan jati diri partai. Sekretaris Jenderal DPP PKB, M. Hasanuddin Wahid, menegaskan bahwa Muscab kali ini bukan sekadar forum musyawarah tertinggi, melainkan ajang untuk meneguhkan ‘Politik Kehadiran’.
“PKB itu baru ada kalau dia hadir. Dia harus hadir di tengah-tengah masyarakat dan di setiap persoalan yang muncul. Tanpa pelayanan dan kehadiran, PKB akan kehilangan jati dirinya,” ujar Hasanuddin Wahid saat ditemui di lokasi acara, Sabtu (4/4).
Menurut pria yang akrab disapa Cak Udin ini, dua kata kunci utama dalam Muscab ini adalah pelayanan dan kehadiran. PKB ingin memastikan bahwa setiap kader dan pengurus di Surabaya identik dengan kerja nyata melayani rakyat.
Mekanisme Langit dan Bumi dalam Penentuan Ketua
Terkait pemilihan nakhoda baru DPC PKB Surabaya, Hasanuddin menjelaskan bahwa PKB tetap mengedepankan tradisi musyawarah mufakat. Namun, prosesnya dilakukan secara ketat melalui berbagai tahapan formal maupun spiritual.
“Ada mekanisme yang kita lalui bersama. Mulai dari usulan ranting (DPRA), kemudian digodok melalui Uji Kepatutan dan Kelayakan (UKK), tes psikologi, hingga pelacakan rekam jejak (track record). Bahkan, kami juga menanyakan kepada ‘Pemilik Hidup’ melalui jalur langit, yakni diistikharahkan,” jelasnya.
Siapa pun yang nantinya diputuskan oleh DPP berdasarkan hasil musyawarah tersebut, seluruh kader wajib mendukung dan mensukseskan kepemimpinan terpilih demi kejayaan partai.
Target Kursi dan Pilkada Surabaya
Menatap Pemilu mendatang, PKB Surabaya memasang target ambisius namun realistis. Hasanuddin menargetkan PKB mampu meraih di atas 10 kursi di DPRD Kota Surabaya.
“Harus menang, minimal bisa belasan kursi. Dengan 10 kursi ke atas, PKB bisa berbuat lebih banyak untuk warga Surabaya. Ini sangat mungkin mengingat basis NU di Surabaya sangat besar,” tambahnya optimis.
Mengenai arah koalisi atau pencalonan di Pilkada Surabaya, Sekjen DPP PKB menyerahkan sepenuhnya mandat tersebut kepada DPC. Meski ia secara pribadi mendorong keberanian kader untuk maju sendiri, fokus utama saat ini tetap pada pelayanan masyarakat.
“Soal mau sama Cak Ji (Armuji) atau maju sendiri, itu terserah DPC. Yang terpenting sekarang adalah melayani masyarakat dan hadir di tengah-tengah mereka,” pungkasnya. (*)






