KabarBaik.co, Jakarta – Investasi jumbo senilai Rp 118 triliun disiapkan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk peremajaan pabrik. Langkah ini sebagai upaya mendorong efisiensi produksi pupuk. Mengingat, sekitar 70 persen pabrik di bawah naungan Pupuk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun.
Alokasi besar ini diproyeksikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Langkah strategis Pupuk Indonesia dimungkinkan setelah perubahan fundamental dalam skema pengelolaan subsidi pupuk yang dinilai memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk melakukan investasi secara mandiri.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan, peremajaan pabrik menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, sebagian besar fasilitas produksi perseroan telah berusia tua. Di atas 20 tahun.
“Lebih dari 70 pabrik berbasis nitrogen sudah berusia tua. Dari sekitar 30 pabrik yang kami miliki, 24 pabrik umurnya sudah di atas 20 tahun,” ujar Rahmad dalam diskusi Suar Forum 2026 bertema Navigating Challenges Creating Opportunity Together di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8) lalu.
Betapa tidak, sebagian besar pabrik Pupuk Indonesia dibangun pada dekade 1980-an. Kala itu, investasi menggunakan APBN dan operasionalnya diserahkan kepada BUMN melalui skema cost plus fee.
Namun, kondisi berubah setelah Reformasi 1998. Keuangan negara dan BUMN dipisahkan yang pada akhirnya mendorong perusahaan harus semakin mengandalkan kemampuan sendiri untuk berinvestasi.
Perubahan fundamental itu menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Kata Rahmad, pembangunan satu pabrik baru membutuhkan investasi sekitar Rp 10 triliun. Alhasil, pembangunan fasilitas baru berjalan lambat.
Masih menurut mantan Direktur Utama Petrokimia Gresik itu, sejak Reformasi hingga 2024, hanya tiga pabrik baru yang dibangun. Namun, persoalan tersebut mulai dijawab melalui reformasi fundamental skema subsidi pupuk.
“Sebelumnya, imbal hasil perusahaan ditentukan berdasarkan biaya atau cost plus fee. Konsekuensinya, makin tinggi biaya yang dikeluarkan, makin besar pula fee yang diperoleh,” tandasnya.
Skema tersebut kemudian diubah dengan menggunakan pendekatan berbasis harga pasar. Dengan mekanisme baru, efisiensi justru memberikan keuntungan kepada perusahaan sehingga menciptakan insentif untuk melakukan investasi dan menekan biaya produksi.
“Kami dibayar berdasarkan harga pasar. Dengan skema tersebut, ketika kami melakukan investasi dan mendapatkan efisiensi, perusahaan juga mendapatkan tambahan keuntungan,” jelas Rahmad.
Ia menyebut perubahan itu sebagai salah satu bentuk structural reform di industri pupuk. Tujuannya bukan hanya memperbaiki kinerja perusahaan, tetapi menciptakan industri yang mampu membiayai investasi sendiri, makin efisien, sekaligus mengurangi beban APBN.
Reformasi tersebut menjadi landasan Pupuk Indonesia menjalankan investasi Rp 118 triliun dalam lima tahun mendatang. Dana itu terutama diarahkan untuk meremajakan fasilitas produksi sehingga struktur usia pabrik perseroan dapat berubah secara signifikan.
“Dengan perubahan tersebut, dalam lima tahun ke depan kami akan melakukan investasi sekitar Rp 118 triliun. Karena melalui investasi tersebut, pabrik-pabrik dapat diremajakan dan menjadi lebih efisien,” tegas Rahmad.
Perseroan menargetkan komposisi usia pabrik berbalik dalam lima tahun. Jika saat ini sekitar 70 persen pabrik berusia di atas 20 tahun, nantinya sekitar 70 persen pabrik ditargetkan berusia di bawah 20 tahun.
Menurut Rahmad, perubahan kebijakan tersebut menunjukkan reformasi dan transformasi industri pupuk mulai memberikan hasil nyata.
Pupuk Indonesia memperoleh kemampuan lebih besar untuk membiayai investasi secara mandiri, efisiensi memberikan insentif terhadap peningkatan keuntungan, sementara peremajaan pabrik dapat dipercepat tanpa kembali mengandalkan pola pembiayaan lama.(*)






