Ubur-Ubur Ikan Lele! Dari Usaha Rintisan Triliunan, Ternyata Manipulasi Laporan Le…

oleh -1090 Dilihat
GUBRAN
Gibran Huzaifah (Foto IG)

KabarBaik.co- Gibran. Nama ini tengah jadi perbincangan luas. Tidak hanya di dalam negeri. Beberapa media luar negeri pun menyoroti. Namun, bukan Gibran itu. Nama lengkapnya Gibran Huzaifah. Beberapa tahun sebelumnya, nama Gibran membuat banyak orang terkagum-kagum. Startup unicorn. Salah satu contoh anak muda yang sukses dengan usaha rintisan. Investasi yang berhasil ditarik disebut lebih dari Rp 9 triliun.

Brand usaha rintisan Gibran itu diberi nama eFishery. Bergerak pada bidang akuakultur. Budidaya perairan. Perikanan. Berpadu-padan dengan sentuhan teknologi. Mereka yang tergiur kemudian menanamkan investasinya bukan kaleng-kaleng. Perusahaan-perusahaan besar. Dari Singapura hingga Timur Tengah.

Di awal-awal, cerita sukses Gibran pun menarik perhatian banyak tokoh di negeri ini. Salah seorang di antaranya Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan (2011-2014). Belakangan, Gita Wiryawan men-take down wawancaranya dengan Gibran.

Dari situs linkedin.com, Gibran lahir di Jakarta. Tahun 1989. Pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Biologi ada juga yang menulis Teknologi Hayati. Embrio eFishery dirintis sejak Gibran masih duduk di bangku kuliah. Ia ingin menekuni usaha sendiri di bidang perikanan. Berkesesuaian dengan ilmu perkuliahan akuakultur. Menjadi petani ikan sekaligus membudidayakannya.

Nah, Gibran pun berternak ikan lele sekitar 2013 silam. Dilansir dari berbagai ceritanya, bukan tanpa alasan ia memilih ikan lele itu. Salah satunya lele mudah dibudidayakan. Dari hanya satu kolam ikan lele, terus berumbuh. Ketika itu, dilaporkan sampai memiliki sebanyak 74 kolam ikan lele. Gibran terus memutar akal.Tujuannya, usahanya itu makin berkembang lagi.

Sejak menggeluti budidaya ikan lele tersebut Gibran menemukan sejumlah permasalahan. Yakni, seputar pakan ikan. Mulai harga pakan yang mahal, dampak pakan terhadap tumbuh kembang ikan, hingga teknik pemberian pakan tersebut.

Dari situlah ia memiliki ide penciptaan Internet of Things (loT). Teknologi pemberian makan ikan otomatis. Tidak lagi disebar manual. Tapi, menggunakan sensor. Kabarnya, alat itu bisa mendeteksi nafsu makan ikan. Pengoperasiannya pun mudah dan sederhana. Cukup lewat smartphone. Itulah kemudian yang dijual atau ditawarkan ke investor dengan nama eFishery.

Alat dan teknologi itu diklaim lebih efektif dan efesien. Keuntungan yang didapat petanit tambak atau pembudidaya ikan jauh lebih besar. Biaya untuk membeli pakan ikan yang dikeluarkan pun jauh lebih irit. Ongkos beli pakan menjadi makin murah. Hemat sampai 28 persen. Petani ikan pun berpeluang besar makin sejahtera. Singkat cerita, pada 2016, eFishery memulai produksi massal teknologi itu.

Gibran berangkat bukan dari keluarga kaya. Namun, dari keluarga sederhana. Cerita-cerita kegigihan dengan bumbu komunikasi ditambah lagi demam-demamnya kata ’’startup’’, membuat namanya makin melambung. Sejumlah investor pun ramai-ramai menanamkan sahamnya. Terkumpul uang triliunan rupiah. Mereka tentu juga berharap mendapat cipratan cuan dari eFishery itu.

Dalam perkembangannya, eFishery terus bertumbuh pesat. Nama Gibran kian melambung. Masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia 2017, Ernst & Young Entrepreneur of the Year (kategori Inovasi) 2018, MIT Tech Review Innovator Under 35 pada 2019, dan Fortune 40 Under 40 Indonesia pada 2022.

Pada 2023, eFishery meningkat statusnya menjadi Unicorn, setelah mendapat dengan pendanaan Seri D sebesar USD 200 juta atau sekitar Rp 3 triliun dari sejumlah perusahaan.

Eh, seperti petir di siang bolong. Belakangan, sebuah kabar menyebutkan bahwa Gibran telah dicopot dari posisinya sebagai CEO eFishery. Sebab, ia diduga terlibat kasus penggelapan dana perusahaan. Modusnya manipulasi laporan. Kini, eFishery di bawah kepemimpinan Adhy Wibisono, sebagai CEO interim (sementara), dan Albertus Sasmitra, sebagai Chief Financial Officer (CFO) interim.

“Keputusan diambil bersama shareholder perusahaan, sebagai wujud komitmen untuk meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik,” tulis eFishery dalam keterangan resminya, 16 Desember 2024.

Data yang didapat KabarBaik.co, setelah dilakukan audit investigasi, ternyata ada dugaan manipulasi dalam usaha itu. Penggelembungan pendapatan. Beberapa temuan itu, pertama, pendapatan empat kali lipat. Pada laporan keuangan internal, eFishery mengumpulkan pendapatan senilai Rp 2,6 triliun selama periode 9 bulan, yakni Januari-September 2024.

FEEDER EFISHERY
Feeder eFoshery, teknologi pemberian makan otomatis. (Foto IG)

Sementara itu, laporan keuangan eksternal menunjukkan eFishery meraup pendapatan 4,8 kali lebih besar senilai Rp 12,3 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan untuk pihak eksternal, pertumbuhan pendapatan eFishery melonjak tajam. Pada 2021 senilai Rp 1,6 triliun, lalu 2022 menjadi Rp 5,8 triliun, dan 2023 menjadi Rp 10,8 triliun.

Angka itu berbeda dalam laporan keuangan internal. Pendapatan eFishery dilaporkan sebesar Rp 1 triliun pada 2021, lalu Rp 4,3 triliun pada 2022, dan Rp 6 triliun pada 2023.

Kedua, untung padahal rugi. Berdasarkan laporan eksternal, eFishery membukukan profit atau keuntungan sebelum pajak senilai Rp 261 miliar selama periode Januari-September 2024. Padahal, versi laporan internal justru rugi Rp 578 miliar dalam periode yang sama.

Sejak 2021 hingga 9 bulan di 2024, laporan eksternal eFishery memperlihatkan pertumbuhan profit sebelum pajak yang positif dan stabil. Hal itu berkebalikan dengan laporan internal. Perusahaan terus merugi sejak 2021. Kerugian paling parah pada 2022 yang mencapai Rp784 miliar. Lalu, pada 2023 sebesar Rp 759 miliar.

Ketiga, indikasi manipulasi tak cuma dari laporan keuangan. Namun, juga klaim eFishery di bawah Gibran yang mengaku ke investor bahwa perusahaan memiliki lebih dari 400.000 fasilitas pakan (feeder). Padahal, kenyataan di lapangan hanyalah sekitar 24.000.

Keempat, mendirikan perusahaan palsu. Upaya manipulasi Gibran dan timnya sejak 2018 dilakukan demi memperoleh pendanaan Seri A. Laporan menemukan pada 2022 ada pembentukan lima perusahaan yang disebut dikendalikan oleh Gibran. tetapi atas nama orang lain.

Perusahaan itu fungsinya untuk pencatatan perputaran uang untuk menggenjot pendapatan dan pengeluaran perusahaan. Pada 2023, terungkap ada dugaan pemalsuan-pemalsuan dokumen-dokumen pendukung seperti invoice, kontrak, serta pembukuan bodong.

Kini, di bawah manajemen baru, perusahaan eFishery tengah berupaya untuk tetap berkembang. ’’Kami memahami keseriusan isu yang sedang beredar saat ini dan kami menanggapinya dengan perhatian penuh. Kami berkomitmen untuk menjaga standar tertinggi dalam tata kelola perusahaan dan etika dalam operasional perusahaan,” katanya dalam pernyataan resminya,;

Sementara itu, belum jelas bagaimana kabar Gibran sekarang. Akun Instagramnya sudah cukup lama tidak aktif. Padahal, dulu lumayan kerap muncul. Unggahan terakhirnya pada 13 Novemver 2024 lalu. Ia memposting foto feeder eFishery dengan narasi:

”Menghabiskan 8 hari bertualang ke beberapa tempat di India untuk melihat pembudidaya yang tergabung di ekosistem @efishery di India. Seru sekali. Bagian favorit saya, tentu saja, mendengar bagaimana layanan eFishery membantu para pembudidaya untuk meningkat pendapatannya 3 hingga 5 kali lipat,” tulisnya.

”Membawa produk dan bisnis model ke negara baru itu sudah sulit; tapi mereplikasi kultur serta impact jauh lebih sulit lagi. Dan eFisherian berhasil melakukan itu. Semoga dampak ke depannya bisa lebih besar lagi,” pungkasnya.

Unggahan itupun banyak mendapat cemoohan dari sejumlah warganet. ”Startup indonesia bakal susah cari pendanaan gara-gara ini orang?”

Rasanya, jadi ingat filosofi Jawa. Ojo kagetan, ojo gumunan. Ubur-ubur ikan lele. sakmadyo wae Le..! (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.