20 Tahun Lumpur Lapindo, Warga di Sidoarjo Masih Hidup dalam Kecemasan dan Krisis Air Bersih

oleh -202 Dilihat
Rumah warga Dusun Gempolsari, Tanggulangin, Sidoarjo yang hidup berdekatan dengan tanggul lumpur Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Rumah warga Dusun Gempolsari, Tanggulangin, Sidoarjo yang hidup berdekatan dengan tanggul lumpur Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Dua dekade berlalu sejak semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul pada 29 Mei 2006 silam. Namun bagi warga yang tinggal di sekitar tanggul, ancaman dan kecemasan justru masih terus terasa hingga kini.

Tingginya tanggul penahan lumpur di kawasan Dusun Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo membuat warga semakin waswas setiap tahunnya.

Peristiwa semburan lumpur panas yang terjadi 20 tahun lalu itu diketahui telah menenggelamkan sedikitnya 16 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon.

Ribuan rumah, lahan pertanian, pabrik hingga akses jalan utama kala itu hilang tertutup lumpur panas yang terus menyembur tanpa henti.

Kini volume lumpur yang terus meninggi hampir sejajar dengan tanggul penahan yang dibangun untuk mencegah lumpur meluber ke permukiman warga di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal hanya beberapa meter dari tanggul merasa hidup dalam bayang-bayang ancaman bencana.

Salah satu warga Dusun Gempolsari, Taufiq, 55, mengaku selama bertahun-tahun harus hidup berdampingan dengan tanggul lumpur yang jaraknya hanya sekitar 15 meter dari rumah warga. Menurutnya, persoalan yang paling dirasakan saat ini ialah krisis air bersih yang semakin memprihatinkan.

“Untuk air bersih sendiri bisa dibilang kesulitan karena air sumber di sini keruh, bau tidak sedap dan asin,” ujarnya kepada KabarBaik.co, Kamis (28/5).

Hamparan luas dampak semburan lumpur Lapindo.
Hamparan luas dampak semburan lumpur Lapindo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu jerigen berkapasitas 25 liter dijual dengan harga sekitar Rp 3 ribu.

Tak hanya itu, kontur tanah di kawasan terdampak juga disebut sempat mengalami ambles. Diperkirakan sekitar 5 ribu warga hingga kini masih terdampak langsung oleh keberadaan tanggul lumpur Lapindo.

Kondisi sumber air warga pun dinilai semakin tidak layak digunakan. Air yang keluar disebut berwarna kekuningan, terasa asin, bahkan seperti bercampur minyak. Warga mengaku tanaman yang disiram menggunakan air tersebut perlahan mati, termasuk tanaman cabai yang sulit tumbuh akibat kualitas air yang buruk.

Keluhan serupa disampaikan Muna, warga Dusun Gempolsari lainnya. Ia berharap ada perhatian serius dari pemerintah terkait kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tanggul lumpur.

“Air di sini sangat tidak layak, seperti ada minyaknya, agak kekuningan dan rasanya asin. Saya biasanya patungan dengan tetangga membeli air bersih pegunungan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai masak, gosok gigi hingga membilas muka,” katanya.

Memasuki 20 tahun tragedi lumpur Lapindo, warga berharap PPLS tidak hanya fokus pada keberlangsungan tanggul penahan lumpur, namun juga memperhatikan kualitas hidup masyarakat yang masih bertahan hidup di kawasan terdampak.

Kebutuhan air bersih yang layak dinilai menjadi persoalan mendesak yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Warga berharap pemerintah hadir untuk memberikan air bersih untuk warga terdampak saat ini.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.