KabarBaik.co, Batu – Kota Batu kembali menjadi panggung olahraga dirgantara kelas dunia melalui gelaran Indonesia Paragliding Accuracy Championship (IPAC) Series 3. Kejuaraan tersebut tidak hanya menghadirkan atlet-atlet terbaik dunia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Pemprov Jatim mengembangkan sport tourism sekaligus industri olahraga berbasis paralayang.
Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jawa Timur Arif Eko Wahyudi mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini diikuti lima atlet yang masuk dalam jajaran 20 pilot paralayang terbaik dunia. Salah satunya adalah atlet kebanggaan Kota Batu yang telah berkiprah di level internasional, Jafor Megawanto.
Menurut Arif, Jumat (31/7), kualitas peserta IPAC Series 3 sejalan dengan capaian Indonesia di pentas dunia. Berdasarkan pemeringkatan dunia nomor ketepatan mendarat periode Januari-Juli 2026, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia, berada di bawah Tiongkok dan Kosovo.
Ia juga menilai regenerasi atlet berjalan sangat baik. Dari seluruh peserta, sebanyak 62 persen berasal dari Generasi Z, disusul generasi milenial sebesar 28 persen dan Generasi X sekitar 9,3 persen.
“Ini bukti paralayang semakin diminati anak muda. Bahkan peserta termuda berusia 14 tahun dari Malaysia, sedangkan peserta tertua berusia 59 tahun, juga berasal dari Malaysia,” ujar Arif, saat Paragliding Accuracy League Seri III di Lapangan Songgomaruto, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Timur, Hadi Wawan Guntoro, mengatakan Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan olahraga tidak hanya sebagai sarana meraih prestasi, tetapi juga sebagai sektor industri yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Ia menyampaikan salam dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang disebut memiliki komitmen kuat dalam mendukung penyelenggaraan event olahraga berskala nasional maupun internasional.
“Hari ini olahraga tidak hanya sekadar olahraga dan prestasi, tetapi juga sudah menjadi gaya hidup serta berkembang menjadi industri. Karena itu kami terus mengembangkan sport tourism dan sport industry,” ungkap dia.
Hadi menjelaskan melalui Dispora Jatim, pemerintah juga menjalankan program Sporting Academy untuk mencetak atlet sejak usia dini, termasuk cabang olahraga paralayang. Program tersebut telah meluluskan dua angkatan dengan total 20 peserta usia SD hingga SMP yang telah mengantongi sertifikat dan memiliki pengalaman terbang sekitar 40 jam.
Menurutnya, angkatan ketiga Sporting Academy segera dibuka. Program itu juga memberikan kesempatan kepada anak-anak dari Sekolah Rakyat agar memiliki peluang yang sama untuk berkembang menjadi atlet berprestasi.
Selain mencetak atlet, Hadi menilai paralayang kini telah berkembang menjadi industri olahraga yang mampu memberikan nilai ekonomi tinggi bagi para pelakunya. Bahkan, tidak sedikit atlet yang memilih menjadi pilot tandem karena dinilai lebih menjanjikan secara finansial.
“Artinya paralayang sekarang sudah menjadi industri. Karena itu venue di Kota Batu ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan agar tidak hanya melahirkan atlet, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian Jawa Timur,” ujarnya.
Ia berharap sinergi pemerintah daerah, FASI, TNI AU, serta seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar Kota Batu semakin dikenal sebagai pusat olahraga dirgantara sekaligus destinasi sport tourism unggulan di Indonesia. (*)






