Adi Sutarwijono: Seorang Wakil, Sebuah Nomor Telepon, dan Cerita yang Kini Tertinggal

oleh -217 Dilihat
IMG 20260209 WA0039
Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, semasa hidup

KabarBaik.co, Surabaya,- Malam itu, teleponnya tak lagi berdering.

Tak ada lagi balasan pesan singkat di tengah malam.

Tak ada lagi suara hangat yang biasanya menjawab cepat keluhan warga.

Selasa (10/2) malam, pukul 20.36 WIB, Dominikus Adi Sutarwijono mengembuskan napas terakhirnya di RS MRCCC Jakarta. Ketua DPRD Surabaya yang akrab disapa Awi itu pergi dalam usia 56 tahun, setelah menjalani perawatan medis intensif.

Kabar duka menyebar cepat di Kota Pahlawan. Terutama di kalangan wartawan.

Bukan sekadar kabar wafatnya seorang pejabat.

Tapi kepergian seseorang yang selama ini terasa dekat.

Seseorang yang nomor ponselnya dimiliki banyak orang kecil.

Dalam sebuah kesempatan, Adi bercerita. Sejatinya, dia tak pernah membayangkan hidupnya akan berujung di kursi Ketua DPRD Surabaya.

Adi lahir jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.

4 Agustus 1968, di Blitar, dari keluarga sederhana. Ayahnya, JA Mochtar, seorang guru SD. Rumahnya tak mewah,. Tapi, penuh nilai tentang disiplin, kejujuran, dan keberpihakan pada sesama.

Nilai-nilai itulah yang dia bawa merantau ke Surabaya saat kuliah Ilmu Politik di FISIP Universitas Airlangga.

Di kampus, Adi lebih sering terlihat di ruang diskusi dan organisasi ketimbang sekadar kelas-kelas kuliah. Ia senang berbicara soal ketidakadilan, soal rakyat kecil, soal negara yang seharusnya hadir.

Tapi Adi tak langsung memilih politik.

Adi memilih menjadi wartawan.

Selama sekitar 10 tahun, Adi menulis untuk Harian Surya dan Majalah Tempo. Dari lapangan ke lapangan, dari demonstrasi ke gedung kekuasaan, Adi mengamati politik dari jarak dekat.

Baginya, jurnalisme adalah cara membela rakyat.

“Bagi saya, yang harus dibangun dalam tulisan seorang wartawan adalah perspektif kerakyatan,” begitu prinsip yang selalu  dia pegang.

Adi  meliput pergolakan PDI Pro-Mega 1996, masa reformasi, dan dinamika transisi demokrasi. Dari situlah hatinya makin condong. Kritik saja tak cukup, dia ingin turun langsung mengambil peran.

Tahun 2003, Adi bergabung dengan PDI Perjuangan.

Jalannya ternyata tak mudah.

Dua kali maju sebagai calon legislatif (Caleg), dua kali pula gagal. Pemilu 2004 kandas. Pemilu 2009 kembali kalah.

Bagi sebagian orang, boleh jadi itu alasan untuk berhenti.

Namun, tidak dengannya. Justru, hal itu menjadi salah satu alasan untuk bekerja lebih keras.

Kesempatan datang pada 2012 lewat Pergantian Antar Waktu (PAW). Dia akhirnya duduk di kursi DPRD Surabaya. Tanpa banyak janji, tanpa banyak sorotan.

Dia hanya bekerja.

Turun ke kampung-kampung. Menemui pedagang. Mendengarkan keluhan warga soal jalan rusak, sekolah, kesehatan, hingga penggusuran.

Gayanya sederhana. Tak berjarak.

Orang-orang heran, seorang anggota dewan tapi mudah sekali dihubungi.

Telepon selalu diangkat. Pesan selalu dibalas.

Bahkan tengah malam. “Menjadi wakil rakyat harus terbuka untuk siapa pun,” ucapnya suatu ketika.

Salah satu momen yang melekat di ingatan publik adalah saat dia membela seorang ibu penjual rujak cingur yang terancam kehilangan mata pencaharian. Dia datang langsung, berdiri di samping si ibu, memastikan ada solusi.

Bagi Adi, politik bukan panggung. Politik adalah keberpihakan.

Perlahan, warga mengenalnya. Bukan karena baliho besar, tapi karena kehadiran nyata.

Dia terpilih kembali pada 2014. Lalu 2019 dan 2024.

Tanpa pernah bercita-cita, Adi dipercaya menjadi Ketua DPRD Surabaya sekaligus Ketua DPC PDIP Kota Surabaya.

“Jujur, saya tidak pernah bermimpi jadi ketua,” katanya suatu hari.
“Prinsip saya cuma satu, pro wong cilik.”

Di tangannya, perolehan kursi partai melonjak. Basis-basis baru tumbuh. Sejumlah kemenangan politik di Surabaya tak lepas dari strateginya.

Namun jabatan tak pernah mengubah caranya berjalan.

Tetap menyapa duluan. Tetap tertawa lepas. Tetap membalas pesan satu per satu.

Tetap menjadi Awi. Kini, langkah itu terhenti.

Jenazahnya dalam perjalanan pulang ke Surabaya, kota yang  dipilih sebagai ladang pengabdian. Rencananya akan disemayamkan di Grand Heaven, memberi kesempatan warga, kolega, dan sahabat untuk mengucap selamat tinggal.

Bagi Surabaya, Adi mungkin seorang Ketua DPRD.

Bagi banyak orang, terutama wong cilik, Adi lebih dari itu.

Adi adalah nomor telepon yang selalu aktif. Telinga yang mau mendengar.
Dan tangan yang benar-benar turun, berupaya membantu. Semampunya.

Dia memang tak pernah bermimpi menjadi ketua dewan.

Tapi Adi berhasil menjadi sesuatu yang jauh lebih langka:

Politisi yang terasa manusia. Dan mungkin, itulah warisan terbesarnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.