KabarBaik.co, Blitar – Rencana penutupan akses kendaraan roda empat di jalur Bendungan Lahor mulai 1 Agustus 2026 diperkirakan berdampak terhadap sektor wisata Kabupaten Blitar. Pemerintah daerah mulai mengkhawatirkan potensi penurunan pendapatan retribusi wisata Ngreco akibat pembatasan akses tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disburapar) Kabupaten Blitar Eko Susanto mengatakan selama ini jalur bendungan menjadi akses favorit wisatawan menuju kawasan wisata karena dinilai lebih cepat dan praktis.
“Kalau akses dibatasi tentu akan berdampak pada kunjungan wisata dan potensi retribusi daerah,” ujarnya, Selasa (26/5)
Menurut Eko, pada tahun lalu pendapatan retribusi wisata Ngreco mencapai sekitar Rp 2,1 miliar dan berhasil memenuhi target pemerintah daerah. Namun tahun ini capaian pendapatan belum bisa dihitung karena retribusi sementara dibebaskan setelah kontrak kerja sama dengan PJT I berakhir pascalebaran.
“Tahun lalu retribusi wisata Ngreco sekitar Rp 2,1 miliar. Tahun ini memang belum terlihat karena setelah kontrak habis sementara dibebaskan,” katanya.
Di tengah rencana pembatasan akses tersebut, Disbudpar sebenarnya sempat menyiapkan modernisasi sistem pembayaran retribusi menggunakan barrier gate dan pembayaran elektronik berbasis e-toll melalui program CSR.
Sistem itu dirancang untuk menekan kebocoran pendapatan karena seluruh transaksi masuk kawasan wisata dapat dipantau secara real time.
“Kami sebelumnya sudah menyiapkan sistem pembayaran elektronik untuk akses wisata Ngreco maupun jalur arah Malang,” jelasnya.
Namun rencana tersebut kini terancam tertunda menyusul kebijakan penutupan akses kendaraan roda empat di atas bendungan. Nantinya wisatawan akan diarahkan melewati jalur bawah, sedangkan kendaraan roda dua masih diperbolehkan melintas dengan sistem berbayar.
“Kami berharap pembahasan kerja sama dengan PJT bisa segera selesai agar sektor wisata tidak semakin terdampak,” pungkasnya. (*)







