Anggota DPR Apresiasi Kampung Batik Ceria Surabaya, Ajak Anak Kembali Main Tanpa Gadget

oleh -92 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 29 at 5.20.11 PM
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono di Kampung Batik Ceria (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Di tengah derasnya arus digital, Kampung Ceria dan Batik TIN Gundih di Jalan Sumber Mulyo IV, Kelurahan Gundih, Bubutan, Surabaya, menghadirkan suasana yang berbeda. Kampung ini bukan hanya dikenal sebagai sentra batik, tetapi juga menjadi ruang belajar, bermain, sekaligus melestarikan budaya bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

Suasana kampung tampak hidup. Kain-kain batik hasil karya warga tergantung rapi di sejumlah sudut, sementara anak-anak terlihat riang memainkan berbagai permainan tradisional seperti dakon, hulahoop, hingga egrang.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya warga mengenalkan kembali permainan tradisional sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

Konsep tersebut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), saat mengunjungi Kampung Ceria dan Batik TIN Gundih, Rabu (29/7).

Dalam kunjungannya, BHS meninjau langsung proses pembuatan batik sekaligus melihat aktivitas anak-anak yang memanfaatkan ruang kampung sebagai tempat bermain dan belajar.

Menurut BHS, Kampung Batik Ceria Gundih telah berkembang menjadi destinasi edukasi yang tidak hanya menghasilkan produk batik, tetapi juga memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat dan wisatawan.

“Kampung ini sangat produktif. Tidak hanya menghasilkan batik, tetapi juga menjadi tempat edukasi yang sudah dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ujarnya.

BHS menilai keberadaan permainan tradisional di lingkungan kampung memberikan manfaat besar bagi tumbuh kembang anak. Selain membuat anak lebih aktif bergerak, permainan tersebut juga mampu membangun kebersamaan, melatih kedisiplinan, serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gadget

“Ini sangat positif. Anak-anak bisa bermain sambil berolahraga dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada gadget. Ini kebiasaan yang sehat,” katanya.

Ia berharap konsep serupa dapat diterapkan di lebih banyak kampung di Surabaya maupun daerah lain. Menurutnya, lingkungan permukiman memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda dengan memanfaatkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat.

“Kita ingin generasi muda tidak hanya tumbuh cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Permainan tradisional dapat menanamkan nilai disiplin, kerja sama, dan semangat untuk terus berkembang,” tambahnya.

BHS juga menilai keberhasilan Kampung Batik Ceria Gundih tidak terlepas dari sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah yang terus melakukan pembinaan terhadap potensi kampung.

Sementara itu, Lurah Gundih, Christiono, menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, perhatian dari DPR RI menjadi motivasi bagi warga untuk terus mengembangkan Kampung Batik Ceria sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus pusat kegiatan edukatif bagi anak-anak.

“Ini menjadi kebanggaan bagi warga RW 4 Kelurahan Gundih. Kehadiran DPR RI menunjukkan bahwa kampung ini mendapat perhatian,” ujarnya.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Kampung Batik Ceria Gundih menawarkan wajah lain kehidupan perkotaan. Di kampung ini, budaya tetap dijaga, kreativitas warga terus tumbuh, dan anak-anak masih memiliki ruang untuk bermain, belajar, serta mengenal nilai-nilai kebersamaan melalui permainan tradisional.

Perpaduan antara pelestarian batik dan pendidikan karakter itu menjadikan Kampung Ceria Gundih sebagai contoh bahwa kemajuan zaman dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.