Ayah Tak Tamat SD, Kisah Widi Arti Persembahkan Gelar S3 Kedokteran Unair untuk Keluarga

oleh -94 Dilihat
Widi Arti (tengah kerudung hijau) saat foto bersama keluarga usai wisuda S3 Ilmu Kedokteran Unair. (Foto: Ist)
Widi Arti (tengah kerudung hijau) saat foto bersama keluarga usai wisuda S3 Ilmu Kedokteran Unair. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Saat melihat putrinya mengenakan toga doktor, Sudiharjo tak kuasa menahan haru. Pria lanjut usia (lansia) berusia 73 tahun  yang tak pernah merasakan lulus sekolah dasar (SD) itu akhirnya menyaksikan mimpi yang dulu terkubur karena keadaan, akhirnya terwujud melalui putrinya, Widi Arti.

Perempuan yang lahir dari keluarga sederhana itu berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi.

Puluhan tahun lalu, Sudiharjo dan istrinya harus menghentikan pendidikan sebelum menamatkan bangku SD karena kondisi ekonomi keluarga. Mereka tak pernah membayangkan salah satu anaknya kelak mampu menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran dari Universitas Airlangga (Unair).

Bagi Widi, gelar tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan persembahan untuk kedua orang tuanya yang tak sempat mewujudkan mimpi mengenyam pendidikan.

Widi Arti merupakan perempuan asal Cilacap yang kini menetap di Sidoarjo bersama sang suami. Sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga yang serba sederhana.

Sejak kecil, ia menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya bekerja keras demi menghidupi keluarga, meski tak pernah memiliki kesempatan menikmati pendidikan yang layak.

Pengalaman itulah yang menumbuhkan tekad dalam dirinya. Widi berjanji suatu saat akan mengangkat derajat keluarganya melalui pendidikan.

Dia ingin menjadi orang pertama di keluarganya yang meraih gelar doktor. Sekaligus membuktikan bahwa kesungguhan dapat meraih cita-citanya.

Sudiharjo mengenang putrinya sebagai sosok yang tekun dan pantang menyerah. Sejak kecil, Widi selalu bersungguh-sungguh mengejar apa yang menjadi impiannya.

“Widi memang anak perempuan saya yang tekun dan selama ini ingin mengharumkan nama kedua orang tuanya dengan lulus di perguruan ternama di Jatim,” ujarnya, baru-baru ini.

Janji itu tidak ditepati dengan jalan yang mudah. Widi mulanya menyelesaikan S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tahun 2025. Perempuan yang kini berusia 34 tahun itu kemudian melanjutkan studi S2 Ilmu Kesehatan Olahraga Fakultas Kedokteran Unair dan pada tahun 2018 dinyatakan lulus.

Perjalanannya berlanjut setelah diterima di Program Doktor Ilmu Kedokteran Unair pada 30 Januari 2023. Kala itu, Widi harus menjalani kehidupan yang nyaris tanpa jeda.

Di pagi hingga sore hari, ia mengajar sebagai dosen Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Setelah itu, ia kembali menjalankan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Malam hari menjadi waktu bagi Widi untuk bergelut dengan jurnal ilmiah, penelitian, revisi disertasi, hingga publikasi internasional. Tak sedikit waktu istirahat yang harus ia korbankan demi mengejar target akademik.

Perjuangan itu juga menguras biaya yang tidak sedikit. Widi memilih mencari tambahan untuk kuliahnya sendiri pendidikan doktoralnya dari penghasilannya sebagai dosen, dan suport dari sang suami yang mencintainya.

Namun, Widi menyadari keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Di balik perjuangan panjang itu, ada sosok suami yang selalu berdiri di sisinya. Sang suami terus memberikan dukungan, doa, dan semangat agar Widi tetap kuat menghadapi setiap tantangan. Ketika rasa lelah datang, saat penelitian harus diulang, jurnal ditolak, atau revisi tak kunjung selesai, dukungan sang suami menjadi energi yang membuatnya terus melangkah.

Selama tiga tahun tujuh bulan menempuh studi doktoral, Widi menghadapi berbagai ujian. Proposal penelitiannya beberapa kali harus diganti, artikel ilmiahnya ditolak jurnal internasional, hingga revisi disertasi yang seolah tak pernah selesai. Namun, menyerah tidak pernah menjadi pilihan.

“Perjalanan S3 itu ibarat jalan sunyi. Tidak semua orang bisa memahami beratnya proses riset, deadline, dan tekanan akademik. Tapi saya percaya, setiap langkah terjal membawa pelajaran berharga,” ungkap Widi.

Kesabaran dan kerja kerasnya akhirnya berbuah manis. Pada 16 Juli 2026, Widi resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran Unair. Disertasinya berjudul ‘Mekanisme Peningkatan Keseimbangan Dinamis dengan Kombinasi Latihan Proprioceptive dan Strengthening pada Atlet Sepatu Roda’ berhasil dipertahankan.

Selama menempuh studi, ia juga sukses menerbitkan lima artikel ilmiah internasional terindeks Scopus, terdiri atas satu jurnal Q2 dan empat jurnal Q3.

Meski kini menyandang gelar doktor, Widi merasa pencapaian terbesar bukanlah gelar yang tersemat di belakang namanya. Kebahagiaan sesungguhnya adalah melihat kedua orang tuanya tersenyum bangga. Pendidikan yang dulu terputus di generasi ayah dan ibunya, kini berhasil ia tuntaskan hingga jenjang tertinggi.

Ke depan, Widi ingin membawa ilmu dan pengalaman risetnya untuk kemajuan pendidikan. Sebagai dosen di Umsida, ia berharap dapat menumbuhkan budaya penelitian di kalangan mahasiswa agar semakin banyak anak-anak dari keluarga sederhana yang berani bermimpi besar.

“Saya ingin mahasiswa terbiasa dengan budaya riset, sekaligus menikmati pembelajaran yang lebih visual, kreatif, dan berbasis teknologi digital,” ujarnya.

Bagi Widi Arti, gelar doktor bukan sekadar simbol keberhasilan akademik. Gelar itu adalah bukti cinta seorang anak kepada kedua orang tuanya, sekaligus penegas bahwa mimpi yang pernah terhenti karena kemiskinan dapat diwujudkan oleh generasi berikutnya melalui kerja keras, doa, dan ketekunan.

“Perjalanan panjang bukan tentang seberapa cepat sampai, tapi seberapa kuat kita bertahan,” tutupnya.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.