Bertahan di Tengah Modernisasi, Penggilingan Kopi Tradisional Wonosalam Jombang Ini Tetap Setia dengan Cara Lama

oleh -934 Dilihat
Proses penggilingan kopi (Teguh Seiawan)

KabarBaik.co – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pengolahan kopi, sebuah usaha penggilingan kopi tradisional di lereng Gunung Anjasmoro masih bertahan dan terus berdenyut. Usaha itu berada di Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Wonosalam, Jombang.

Penggilingan kopi tersebut dikelola oleh Muhammad Dian Nur Wahid, 25, generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga sejak awal tahun 2000-an. Di saat mesin modern semakin mudah diakses, Dian justru memilih tetap setia pada cara tradisional yang diwariskan orang tuanya.

“Ini sudah berjalan sejak tahun 2000-an. Saya meneruskan usaha orang tua,” ujar Dian, Minggu (18/1).

Dalam proses produksinya, Dian masih menjalankan tahapan pengolahan kopi secara manual. Ia memulai dengan memilih biji kopi green bean berkualitas, lalu mengeringkannya secara tradisional. Setelah itu, biji kopi disangrai selama kurang lebih satu jam.

“Setelah disangrai, kopi didinginkan dulu, kemudian disortir kembali sebelum masuk proses penggilingan sampai menjadi bubuk,” jelasnya.

Kopi bubuk hasil gilingan tradisional tersebut kemudian dikemas dalam beberapa ukuran, mulai dari 100 gram hingga 250 gram, sebelum dipasarkan.

Menurut Dian, pengolahan kopi secara tradisional memiliki keunggulan tersendiri. Selain biaya produksi yang relatif lebih hemat, aroma kopi yang dihasilkan dinilai lebih khas dibandingkan hasil mesin modern.

“Biaya produksinya lebih irit, dan aroma kopi dari proses tradisional itu beda,” katanya.

Namun, proses manual tentu memiliki tantangan. Tenaga yang dibutuhkan lebih besar, begitu pula ketelatenan dalam setiap tahapannya.

“Tenaganya memang lebih berat,” ujar Dian singkat.

Kopi khas Wonosalam hasil gilingan tradisional Nyoto Roso (Teguh Setiawan)

Menariknya, seluruh alat penggilingan yang digunakan merupakan hasil rakitan sendiri. Dalam sehari, Dian mampu memproduksi hingga 20 kilogram kopi. Rata-rata penjualannya sekitar 2 kilogram per hari. Dengan harga berkisar Rp 130.000 hingga Rp 140.000 per kilogram, omzet bulanan yang diperoleh mencapai sekitar Rp 6 juta.

Kopi produksinya dipasarkan dengan merek Nyoto Roso, dengan andalan kopi ekselsa khas Wonosalam. Selain itu, Dian juga menjual kopi arabika, robusta, serta robusta campuran.

Untuk harga, kopi ekselsa dibanderol Rp 35.000 per kemasan 250 gram atau Rp 140.000 per kilogram. Sementara kopi robusta campuran dijual Rp 25.000 untuk kemasan 250 gram dan Rp 15.000 untuk kemasan 100 gram.

Pemasaran kopi Nyoto Roso tidak hanya terbatas di Jombang. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, seperti Blitar, Tulungagung, hingga Kediri.

“Semoga ke depannya bisa lebih maju,” harap Dian.

Salah satu pelanggan setia, Rendar Putra, 26, mengaku rutin mengonsumsi kopi ekselsa Wonosalam produksi Dian bersama keluarganya.

“Saya pakai setiap hari. Selain rasanya unik, ini juga bentuk kecintaan saya pada produk asli Jombang,” ujar Rendar.

Menurut Rendar, kopi tersebut juga kerap disajikan untuk menjamu tamu. Dari segi harga, ia menilai kopi Nyoto Roso cukup terjangkau.

“Harganya masih ramah di kantong, apalagi rasanya beda,” katanya.

Di tengah modernisasi industri kopi, usaha penggilingan kopi tradisional yang dijalankan Dian menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat. Harapannya sederhana, agar usaha ini tetap bertahan dan terus berkembang dari waktu ke waktu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.